Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Beban Bunga Utang Pemerintah Bengkak, Ekonom: Ruang Gerak Fiskal Makin Terbatas

Ruang gerak APBN dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi dinilai semakin terbatas pada 2023 dikarenakan beban bunga utang yang membengkak.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 23 November 2022  |  20:28 WIB
Beban Bunga Utang Pemerintah Bengkak, Ekonom: Ruang Gerak Fiskal Makin Terbatas
Pembangunan Jalan Tol Solo-Yogya-YIA Kulon Progo. - PT Jogjasolo Marga Makmur (JMM)
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Ruang gerak APBN dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi dinilai semakin terbatas pada 2023.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Akbar Susamto menyampaikan bahwa 19,8 persen dari total belanja pemerintah pada 2023 atau sebesar Rp441,4 triliun dialokasikan untuk membayar bunga utang.

Dia mengatakan, lonjakan beban bunga utang tersebut merupakan isu yang perlu menjadi perhatian meski rasio utang pemerintah terhadap PDB masih berada pada batas yang aman.

Seperlima dari total anggaran belanja yang digunakan untuk membayar bunga utang menurutnya akan membatasi gerak APBN dalam mengungkit pertumbuhan ekonomi.

“Peran fiskal dalam mendorong perekonomian kita mungkin tidak bisa terlalu banyak, tidak bisa seperti pada periode 2021 dan 2022,” katanya dalam acara CORE Economic Outlook 2023, Rabu (23/11/2022).

Selain itu, Akbar mengatakan perlu menjadi perhatian juga bahwa biaya utang Indonesia menjadi semakin mahal ke depan, sebagai konsekuensi dari lonjakan utang, terutama pada saat pandemi Covid-19.

Tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) kata dia saat ini sudah lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lainnya, seperti Vietnam, Malaysia, bahkan China.

Dia menambahkan, International Monetary Fund (IMF) dalam laporannya juga menyebutkan bahwa biaya utang Indonesia saat ini sudah termasuk salah satu yang terbesar di dunia.

“Kita harus berhati-hati karena isunya bukan hanya total utang sudah berapa, tetapi juga biaya utang yang sudah sangat mahal, jadi cost of fund yang sudah sangat mahal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apbn Pertumbuhan Ekonomi ekonomi
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan
Konten Premium

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top