Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

DPR Sentil Pemerintah soal Utang Rp5,2 Triliun ke Bulog

DPR mempertanyakan alasan pemerintah masih menunggak utang ke Bulog sebesar Rp5,2 triliun.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 16 November 2022  |  12:52 WIB
DPR Sentil Pemerintah soal Utang Rp5,2 Triliun ke Bulog
Pekerja berada di gudang Bulog di Jakarta, Rabu (2/9/2020). Bisnis - Nurul Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Perum Bulog per 13 November 2022 hanya mempunyai stok beras sebesar 651.000 ton atau jauh dari target yaitu 1,2 juta ton per tahun. Menipisnya stok beras di Bulog mengakibatkan kenaikan harga beras.

Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin, mempertanyakan mengapa pemerintah masih menunggak utang ke Bulog sebesar Rp5,2 triliun. Di sisi lain, Bulog diberi tugas yang cukup berat yakni menyediakan stok beras 1,2 juta ton.

Sudin pun mengumpamakan bahwa Bulog hanya dipersenjatai pistol mainan oleh pemerintah saat masuk ke arena perang.

“Jadi Bulog ini disuruh perang dikasih pistol-pistolan, silakan Anda maju ke medang perang. Anda tidak punya strategi, Anda tewas ditembak musuh,” kata Sudin agenda saat rapat dengar pendapat (RDP) Komisi IV dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bulog, ID Food dan PT Pupuk Indonesia, Rabu (16/11/2022).

Awalnya, Sudin mempertanyakan klaim Kementerian Pertanian (Kementan) yang menyebut stok beras pada 2022 surplus sebesar 10 juta ton. Namun Bapanas justru mencatat hanya 6 juta ton. Dengan keadaan surplus tersebut, menurut Sudin mengapa harga beras tetap meroket sampai 4 persen.

“Kita surplus beras 10 juta ton, (tapi) jadi 6 juta ton. Kalau suplainya banyak harga akan turun apa naik? Tetapi kenapa kita surplus 6 juta ton, akan tetapi di tingkat konsumen ada kenaikan 4,40 persen?,” ujar Sudin.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adhi, menjelaskan bahwa kenaikan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pupuk.

“[Meman] kemudian tidak langsung berbanding lurus semisal BBM naik 30 persen, naik beras 30 persen, tapi ada komponen-komponen lainnya dan itu dalam produksi tidak berbanding lurus sama harganya,” jelas Arief.

Kemudian, Arief menambahkan penyebab kenaikan harga beras juga lantaran perspektif pasar. Ketika Bulog hanya memiliki stok di bawah 1 juta ton, maka pasar akan otomatis bereaksi.

“Per 13 November stok beras Bulog 651.000 ton. Dari awal ditugaskan 1,5 juta tapi dikoreksi jadi 1,2 juta. Tetapi stok levelnya segitu [651.000 ton],” ujarnya.

Oleh karena itu, dia menuturkan Bulog pun berupaya untuk memperbesar stok berasnya. Caranya adalah dengan jalur komersil.

“Kontribusi dari stok komersial itu meningkat, sebelumnya di bawah 2 persen, sedangkan saat ini 20,75 persen. Artinya Bulog sedang mengadakan cadangan komersial karena tidak cukup mengambil CBP dengan harga Rp8.300,” kata Arief.

Dari paparan tersebut, Sudin pun mengkritik pemerintah lantaran masih mempunyai utang sebesar Rp5,2 triliun ke Bulog. Padahal, Bulog diberi tanggung jawab besar yaitu menyediakan cadangan beras nasional.

“Kalau tidak salah Rp5 triliun ya Pak Buwas?.”

Dirut Bulog Budi Waseso menjawab, “Rp5,2 [triliun], Pak.”

“Jadi Bulog ini disuruh perang dikasih pestol-pestolan, silakan Anda maju ke medang perang. Anda tidak punya strategi, Anda tewas ditembak musuh," sahut Sudin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bulog Stok Beras beras Harga Beras
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top