Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

PT Timah (TINS) Beri Penjelasan Soal Temuan BPK Terkait Anak Usahanya

BPK menyoroti belum optimalnya penjualan tin chemical PT Timah Industri, anak usaha PT Timah Tbk. Ada beban depresiasi atas idle capacity sebesar Rp28,84 miliar
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 01 November 2022  |  21:31 WIB
PT Timah (TINS) Beri Penjelasan Soal Temuan BPK Terkait Anak Usahanya
Negara penghasil timah
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melaporkan penjualan tin chemical yang dilakukan PT Timah Industri, anak usaha PT Timah Tbk., di bidang industri kimia tin based tin chemical, belum sesuai dengan target dan menanggung beban depresiasi atas idle capacity sebesar Rp28,84 miliar.

Beban depresiasi itu ditanggung PT Timah Industri atas pengelolaan dan penjualan tin chemical yang tidak optimal sepanjang 2019 hingga 2021.

Pemeriksaan badan audit itu tertuang dalam laporan hasil pemeriksaan kinerja atas efektivitas manufaktur dalam rangka peningkatan nilai tambah sumber daya mineral timah tahun buku 2019, 2020, dan 2021 pada PT Timah Industri dan Instansi Terkait di Jakarta, Banten dan Bangka Belitung yang disahkan pada 20 April 2022.

Sekretaris Perusahaan PT Timah Abdullah Umar membenarkan ihwal hasil pemeriksaan BPK tersebut. Menurut Abdullah, kapasitas produksi PT Timah Industri sepanjang 2019 hingga 2021 belum memenuhi kapasitas terpasang. Konsekuensinya, produksi dari pabrikan hilir timah itu tidak memenuhi target sesuai kapasitas yang ditargetkan perseroan.

“Namun, dilihat dari peningkatan produksi di tahun 2019 sampai dengan 2021 yang mengalami peningkatan signifikan produksi dari 200 sampai 300 ton per bulan pada 2019, terus meningkat menjadi 600 sampai 700 ton per bulan,” kata Abdullah saat dihubungi, Selasa (1/11/2022).

Abdullah mengatakan, tren peningkatan produksi itu sudah mencapai 85 persen dari kapasitas terpasang sepanjang 2020 hingga 2021. Torehan itu, kata dia, juga turut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan produk tin chemical di pasar domestik dan internasional.

“Hal ini seiring dengan semakin meningkatnya permintaan produk tin chemical, baik dari dalam negeri dan luar negeri, beban depresiasi juga sudah mengalami penurunan,” tuturnya.

Perincian beban depresiasi atas idle capacity itu di antaranya pada 2019 sebesar Rp11,63 miliar, 2020 sebesar Rp12,28 miliar, dan 2021 sampai dengan November di angka Rp4,93 miliar.

Berdasarkan pemeriksaan BPK, produksi dan penjualan tin chemical menurun di bawah 3.000 ton pada 2018 disebabkan karena adanya perubahan regulasi emisi di China yang membuat produsen 2-EHTG tidak berproduksi. Kondisi itu berlanjut sepanjang 2019 hingga November 2021, produksi dan penjualan tin chemical mengalami peningkatan tetapi penjualan masih di bawah target yang ditetapkan dalam rencana kerja dan anggaran (RKAP).

Berdasarkan data produksi, penjualan dan pengiriman logam timah dari PT Timah Tbk kepada PT Timah Indonesia selama lima tahun terakhir mengalami kenaikan dari 2017 sampai dengan 2019. Hanya saja, tren itu justru mengalami penurunan setelah 2019 sampai 2021.

“Penjelasan dari Direktur Operasi PT Timah Tbk diketahui dalam periode tertentu, PT Timah Tbk memiliki keterbatasan produksi logam timah sehingga pengiriman kepada PT Timah Industri dilakukan setelah memenuhi komitmen pengiriman kepada pelanggan yang lebih prioritas,” tulis laporan BPK itu, seperti dikutip Bisnis, Selasa (1/11/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tins pt timah
Editor : Denis Riantiza Meilanova
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top