Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Justru Turun Usai Pemangkasan oleh OPEC+

Harga minyak turun setelah OPEC+ mengumumkan pemangkasan produksi dan berlanjutnya lockdown di China.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 06 September 2022  |  16:35 WIB
Harga Minyak Justru Turun Usai Pemangkasan oleh OPEC+
Logo Negara-negara Pengeskpor Minyak (OPEC) di kantor pusat di Vienna, 10 Jun 2014. - reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak turun setelah OPEC+ mengumumkan pemangkasan produksi dan berlanjutnya lockdown di China.

Dilansir Bloomberg pada Selasa (6/9/2022), harga acuan global minyak Brent tergelincir menjadi US$95 per barel hari ini setelah berakhir naik 3 persen pada Senin seiring dengan keputusan OPEC+ untuk memangkas produksi hingga 100.000 barel per hari.

Harga minyak mentah melandai sejak awal Juni, menghapus semua kenaikan setelah Rusia menginvasi Ukraina. Hal ini menjadi pertanda melemahnya ekonomi global, pengetatan kebijakan moneter dan lockdown di China yang mengancam pelemahan permintaan energi.

Penurunan tersebut mendorong OPEC+ untuk memangkas produksi dari pasar global, sebagai langkah mengalihkan taktik dari memulihkan pemotongan pasokan yang diberlakukan selama pandemi.

Sementara itu, lockdown di China yang meluas hingga ke wilayah Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan dan restriksi di sebagian wilayah Guiyang, kota dengan populasi sebanyak 6 juta jiwa di Provinsi Guizhou.

"Saya menduga pasar akan terus didikte oleh kekhawatiran permintaan, terutama mengingat lebih banyak bagian China yang tampaknya telah dikunci," kata Warren Patterson, Kepala Strategi Komoditas ING Groep NV di Singapura.

China, importir minyak terbesar, telah menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi yang mengkhawatirkan dengan konsumsi yang turun hingga 9,7 persen pada Juli ke level terendah dua tahun di tengah aktivitas bisnis yang lebih lemah dan pembatasan Covid-19 yang keras. Sementara itu, AS telah mendekati resesi dan mengejar kebijakan moneter yang lebih ketat.

Harga minyak Brent menunjukkan volatilitas dalam beberapa pekan terakhir setelah diterpa ketidakpastian soal keputusan OPEC+ dan juga krisis energi di Eropa.

Spread atau perbedaan dua kontrak terdekat minyak Brent mencapai US$1,23 per barel, turun dari US$1,47 pekan lalu.

Harga Brent untuk pengiriman November turun 0,7 persen menjadi US$95,10 per barel di ICE Futures Europe exchange pada pukul 7.28 pagi di London.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menunjukkan kenaikan 4,3 persen menjadi US%96,99 pada Senin. Pengiriman WTI untuk Oktober mencapai US$88,74 per barel di New York Mercantile Exchange. Angka itu lebih Tinggi 2,2 persen daripada penutupan Jumat setelah libur Hari Buruh.

Pemangkasan kali ini menjadi yang pertama dalam lebih dari setahun. Hal ini berarti bahwa kelompok produsen minyak terbesar, termasuk Rusia, serius untuk mengelola pasar minyak mentah dan akan mengambil tindakan pencegahan, seperti yang diungkapkan oleh Arab Saudi.

"Langkah ini menunjukkan bahwa kami akan penuh perhatian, mendahului, dan pro-aktif," kata Menteri Energi Pangeran Abdulaziz bin Salman.

Langkah kelompok itu menandakan kesediaan untuk melanjutkan manajemen pasar aktif untuk mencegah aksi jual besar-besaran karena kekhawatiran resesi atau ekspektasi peningkatan pasokan yang didorong oleh kebijakan," terang analis RBC Capital Markets LLC termasuk Helima Croft mengatakan dalam sebuah catatan.

“Mereka berusaha untuk memberi tahu para short seller bahwa mereka tidak akan dengan mudah menyerahkan keuntungan dan menerima [kerugian] begitu saja."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec
Editor : Nindya Aldila
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top