Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Diprediksi Tetap Menguat, Investor Masih Hati-Hati Ekspansi

Kegiatan pengeboran untuk menunjang torehan produksi minyak nasional belakangan kembali bergairah di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 31 Agustus 2022  |  15:54 WIB
Harga Minyak Diprediksi Tetap Menguat, Investor Masih Hati-Hati Ekspansi
Sejumlah pekerja melakukan perawatan sumur Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022). ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) mengatakan investor masih berhati-hati untuk menaikkan belanja modal atau capital expenditure (Capex) berkaitan dengan upaya intensifikasi eksplorasi dan eksploitasi blok Migas di tengah proyeksi harga minyak mentah yang akan tertahan tinggi hingga 2024.

“Biasanya investor selalu berasumsi harga stabil di posisi US$60 per barel hingga US$70 per barel jadi keputusan kita dihitung berdasarkan itu. Kalau harga naik sampai US$100 per barel itu bonus,” kata Moshe saat dihubungi, Selasa (30/8/2022).

Moshe menuturkan investasi yang belakangan mulai meningkat beberapa waktu terakhir disebabkan momentum pemulihan pascapandemi. Hanya saja, dia menampik, pergerakan investasi itu sebagian besar didorong oleh harga minyak mentah yang masih menguat hingga pertengahan tahun ini.

Di sisi lain, dia mengatakan, kegiatan pengeboran untuk menunjang torehan produksi nasional belakangan kembali bergairah di tengah momentum harga komoditas energi primer tersebut.

“Produksi untuk naik lagi butuh pengeboran, teknologi, uang, kuncinya Pertamina tidak bisa sendiri dia harus berpartner,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan harga minyak mentah dunia akan tetap berfluktuasi di kisaran US$100 per barel hingga 2024 mendatang. Situasi itu, kata Luhut, bakal memberatkan Indonesia yang mesti mengimpor 750.000 barel minyak setiap harinya untuk kebutuhan domestik.

“Dunia masih dihadapkan perang Rusia dan Ukraina harga minyak ini pun akan masih berfluktuasi di atas US$100 per barel dan itu akan berat buat kita dan seluruh dunia akan mengalami,” kata Luhut saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Selasa (30/8/2022).

Malahan, kata Luhut, sentimen penguatan harga minyak mentah itu belakangan turut dipengaruhi oleh ketatnya pasokan dari sejumlah produsen utama. Manuver itu diproyeksikan akan menahan harga minyak tetap di kisaran US$100 pada 2024 mendatang.

“Tadi misalnya cadangan minyak Amerika Serikat dikurangi 3 juta barel, cadangan strategisnya dan itu mengindikasikan ke market bahwa harga crude oil itu masih bisa naik ke depan,” tuturnya.

Berdasarkan proyeksi Kemenko Marves, harga minyak mentah jenis Brent akan tetap bertengger di posisi US$100 per barel hingga akhir 2022. Selanjutnya harga minyak mentah itu diperkirakan terkoreksi tipis ke angka US$92 per barel. Pada 2024 mendatang, harga minyak mentah Brent diproyeksikan berada di posisi US$80 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak pertamina harga minyak mentah lifting minyak
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top