Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perangi Depresiasi Mata Uang, Bank Sentral di Asia Kuras Cadangan Devisa

India, Thailand, dan Korea menguras cadangan devisanya senilai total US$115 miliar tahun ini karena mereka menjual dolar AS untuk mengekang depresiasi kurs.
Nabila Dina Ayufajari
Nabila Dina Ayufajari - Bisnis.com 04 Agustus 2022  |  11:33 WIB
Perangi Depresiasi Mata Uang, Bank Sentral di Asia Kuras Cadangan Devisa
Bank sentral Korea. - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral negara-negara di Asia memanfaatkan cadangan devisa yang besar membantu mencegah mata uangnya tertekan oleh kenaikan suku bunga.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (4/8/2022), India, Thailand, dan Korea menguras cadangan devisanya senilai total US$115 miliar tahun ini karena mereka menjual dolar AS untuk mengekang penurunan mata uang.

Meskipun sebagian besar bank sentral di Asia juga menaikkan suku bunga, para ekonom melihat ini lebih ditujukan untuk menekan inflasi daripada mempersempit perbedaan suku bunga dengan The Federal Reserve (The Fed).

Siklus kenaikan suku bunga yang relatif lambat dan dangkal dianggap akan cukup untuk menahan kenaikan harga tanpa membuat ekonomi melemah.

Kepala ekonom dan strategi Mizuho Bank Ltd. Vishnu Varathan mengatakan cadangan devisa (cadev) yang besar memberikan beberapa ruang bagi bank sentral ini untuk mengeksploitasi ini sebagai sarana untuk mendukung mata uang dan menahan inflasi dari luar.

Menurut ekonom Maybank Investment Banking Group Chua Hak Bin, banyak bank sentral di Asia telah mengakumulasi cadangan devisa selama periode arus masuk modal (capital inflow) dan saat AS masih menerapkan era suku bunga rendah.

“Menjaga stabilitas mata uang penting untuk menopang kepercayaan ekonomi dan menurunkan ancaman bagi eksportir dan debitur, terutama untuk ekonomi yang lebih kecil dan lebih terbuka," jelas Varathan.

Hampir tidak ada negara di dunia yang terhindar dari pukulan penguatan dolar AS, tetapi mata uang negara emerging market di Asia telah bertahan dengan relatif baik meskipun menahan laju kenaikan suku bunga.

Diketahui, India menghabiskan cadangan devisa hingga US$62 miliar tahun ini, sementara menaikkan suku bunga acuannya hanya 90 basis poin. Bahkan dengan perkiraan kenaikan 50 basis poin oleh Reserve Bank of India (RBI) pada Jumat (29/7/2022), ini masih jauh dari kenaikan 225 basis poin oleh The Fed.

Mata uang Rupee telah turun ke serangkaian rekor terendah selama periode tersebut, tetapi telah berhasil mempertahankan posisinya sepanjang semester pertama tahun ini di antara mata uang regional lainnya.

Korea Selatan, yang mulai menaikkan suku bunga 12 bulan lalu tetapi menahan diri setelahnya, mencatatkan penurunan cadangan devisa hampir US$25 miliar. Won turun lebih dari 9 persen sejak awal Januari dan telah mencapai level yang terakhir terlihat pada 2009.

Sementara itu, Thailand mengalami penipisan cadangan devisa senilai US$28 miliar sambil mempertahankan suku bunga pada rekor terendah. Adapun mata uang baht turun 8 persen ke level terendah sejak 2006.

Filipina, Indonesia, dan Malaysia juga mengalami penurunan cadangan devisa tahun ini. Pembuat kebijakan juga telah melihat melampaui cadev dan kenaikan suku bunga untuk mendukung mata uang mereka.

RBI telah melonggarkan aturan untuk menarik lebih banyak arus masuk  dari investor asing ke dalam surat utangnya. Sementara, Korea Selatan telah meminta Layanan Pensiun Nasional untuk lindung nilai yang lebih aktif ketika berinvestasi di luar negeri.

Kepala ekonom India dan Asia non-Jepang Nomura Holdings Inc. Sonal Varma mengatakan kenaikan suku bunga tidak selalu berhasil untuk mempertahankan nilai mata uang.

“Jadi bank sentral menggunakan campuran yang memungkinkan terjadinya depresiasi dan pengeluaran cadev,” ungkap Varma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cadev cadangan devisa asia EKONOMI ASIA
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top