Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cadangan Devisa Naik Rp1,19 Triliun pada Juni 2022, Neraca Transaksi Berjalan Diprediksi Menyusut

Neraca transaksi berjalan 2022 berpotensi mencatat surplus kecil sebesar 0,03 persen dari PDB dibandingkan tahun sebelumnya.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 07 Juli 2022  |  17:43 WIB
Cadangan Devisa Naik Rp1,19 Triliun pada Juni 2022, Neraca Transaksi Berjalan Diprediksi Menyusut
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2 - 2020).

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$136,4 miliar pada Juni 2022 dari US$135,6 miliar pada bulan sebelumnya atau naik US$0,8 miliar atau Rp1,19 triliun.

Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.  Faisal Rachman menyampaikan, pihaknya mempertahankan ekspektasi mereka bahwa surplus barang pada neraca transaksi berjalan 2022 cenderung menyusut.

Ini lantaran impor akan mengikuti ekspor seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi domestik.

"Kami masih melihat neraca transaksi berjalan 2022 berpotensi mencatat surplus kecil sebesar 0,03 persen dari PDB dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 0,28 persen dari PDB," kata Faisal dalam keterangan resmi, Kamis (7/7/2022).

Defisit jasa juga cenderung melebar seiring membaiknya impor (pengangkutan) dan mobilitas masyarakat (perjalanan). Selain itu, tren kenaikan sebagian besar harga komoditas juga mulai mereda di tengah kekhawatiran resesi global yang mengarah ke stagflasi.

Menurut Faisal, hal tersebut bisa berisiko melemahnya kinerja ekspor pada semester II/2022.

Kemudian dari sisi neraca keuangan di 2022, Faisal memprediksi neraca keuangan akan menghadapi beberapa risiko penurunan yang mungkin menutupi potensi aliran masuknya selama periode pemulihan ekonomi.

Risikonya termasuk gangguan rantai pasokan global yang semakin parah dan tekanan inflasi, yang berpotensi menghasilkan normalisasi moneter global yang lebih hawkish daripada yang diantisipasi.

"Hal tersebut telah memicu sentimen flight to quality atau risk-off di emerging market, termasuk Indonesia, khususnya di pasar obligasi pemerintah (capital outflow)," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia cadangan devisa impor ekspor
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top