Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ini Peta Jalan Pengembangan Aneka EBT hingga 2030

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan roadmap aneka energi baru dan terbarukan (EBT) di sejumlah daerah.
Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dioperasikan PT Vale Indonesia Tbk. di Blok Sorowako / PTVI
Fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dioperasikan PT Vale Indonesia Tbk. di Blok Sorowako / PTVI

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakselerasi pengembangan aneka energi baru dan terbarukan (EBT) di sejumlah daerah dengan target pembangkitan daya hingga mencapai sekitar 39,94 gigawatt (GW) pada 2030.

Direktur Konservasi Energi EBTKE Kementerian ESDM Luh Nyoman Puspa Dewi mengatakan kementeriannya tengah meningkatkan kapasitas pembangkit EBT yang berasal dari PLTS Skala Besar, PLTS Atap, PLTS Terapung hingga PLTA.

“Kita punya roadmap ini sampai 2030 diperkirakan target 4,68 GW untuk PLTS skala besar yang berasal dari Jamali, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi,” kata Luh Nyoman dalam Bisnis Indonesia Mid-Year Economic Outlook 2022, Selasa (2/8/2022).

Selain PLTS Skala Besar, Luh Nyoman menambahkan potensi pengembangan EBT yang relatif terjangkau dapat dilakukan lewat pengembangan PLTS Atap dan PLTS Terapung. Menurut dia, dua jenis pembangkit itu ditargetkan dapat menghasilkan daya listrik bersih masing-masing sebesar 3,61 GW dan 26,65 GW.

“Banyak sekali potensi di gedung pemerintahan itu kalau masif ya lalu di sektor bisnis, industri rumah tangga,” kata dia.

Selain itu, Kementerian ESDM juga mengembangkan PLTA dari pemanfaatan 18 bendungan eksisting milik Kementerian PUPR. Selain itu, Kementerian ESDM menginisiasi pengembangan lima lokasi PLTA dengan skema KPBU dan pengembangan pumped storage dengan potensi daya masing-masing sebesar 182,93 MW dan 424,32 MW.

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan realisasi investasi sub sektor energi baru terbarukan dan konservasi energi atau EBTKE baru mencapai US$0,58 miliar atau 14 persen dari target 2022 yang dipatok sebesar US$3,98 miliar.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana mengatakan rendahnya realisasi investasi itu disebabkan karena molornya pengesahan Peraturan Presiden (Perpres) tentang tarif pembelian tenaga listrik energi baru dan terbarukan (EBT) yang direncanakan rampung pada awal tahun ini.

Selain itu, Dadan menggarisbawahi kebijakan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS Atap yang sempat terkendala turut memengaruhi capaian investasi yang relatif minim hingga pertengahan tahun ini.

“Dari target hampir US$4 miliar basisnya Perpres tentang tarif EBT bisa keluar di awal tahun juga kebijakan PLTS Atap bisa smooth berjalan,” kata Dadan saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Senin (6/6/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper