Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Uni Eropa Minta Penyelenggara Kripto Buka Data Transaksi untuk Hindari Cuci Uang

Uni Eropa tengah menyusun regulasi yang meminta penyelenggara kripto membuka data transaksi untuk menghindari transaksi mencurigakan, seperti pencucian uang.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 30 Juni 2022  |  12:59 WIB
Uni Eropa Minta Penyelenggara Kripto Buka Data Transaksi untuk Hindari Cuci Uang
Uni Eropa minta penyelenggara kripto buka data transaksi untuk hindari cuci uang. - Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Parlemen dan Dewan Uni Eropa mencapai kesepakatan untuk memaksa penyedia layanan kripto memberikan informasi transaksi aset digital agar dapat dilacak dan ditindak.

Dilansir Bloomberg pada Kamis (30/6/2022), hal itu dirangkum dalam RUU regulasi transfer dana atau TFR yang bertujuan untuk memperkuat persyaratan anti pencucian uang.

Dengan demikian, transfer kripto selalu dapat dilacak dan memberikan jalan untuk pemblokiran transaksi mencurigakan.

Kebijakan tersebut mengharuskan para penyedia layanan mendapatkan informasi mengenai data pribadi dalam setiap transaksi kripto. Mereka juga harus memberikan informasi tersebut kepada pihak berwenang jika diminta.

Selain itu, pertanggungjawaban tersebut juga berlaku bagi dompet penyimpan aset ketika melakukan transaksi di atas 1.000 euro. Perlu diketahui, dompet tersebut tidak dikelola oleh penyedia layanan berlisensi atau disebut unhosted wallet.

Aturan ini juga meliputi penyedia bursa kripto seperti Coinbase Global Inc., dan penyedia kripto ETP Coinshares International Ltd. dan Valor Inc.

Di sisi lain, hal itu mendapat respons keberatan dari perusahaan kripto. Lebih dari 40 entitas kripto telah mengirimkan surat kepada Kementerian Keuangan Uni Eropa pada April. Menurut mereka, aturan tersebut melanggar privasi dan keamanan layanan.

Sebelumnya, pembuat kebijakan Uni Eropa telah memperkenalkan Markets in Crypto Assets atau MiCA pada 2020 yang bertujuan menyusun kerangka kerja untuk penerbitan dan penyediaan layanan terkait dengan aset kripto.

Parlemen, Dewan, dan Komisi Uni Eropa akan menggelar rapat final mengenai MiCA pada Kamis waktu setempat. Pada debat hari Rabu, anggota parlemen dan perwakilan untuk TFR, Ernest Urtasun mengatakan kedua aturan tersebut saling terkait karena UE berusaha mengatur industri kripto dalam satu gerakan.

Dia mengatakan hal itu berarti definisi tertentu yang digunakan dalam TFR tidak berlaku sampai MiCA disetujui. “Kami akan mengakhiri anonimitas transaksi kripto yang merupakan celah besar dalam tindak pencucian uang dan kriminalitas,” katanya dalam sebuah wawancara.

Sejatinya perbincangan mengenai MiCA dan TFR sudah menggema dalam beberapa tahun terakhir. Negara lain seperti Inggris lebih memilih untuk mengatur perusahaan kripto secara bertahap.

Keputusan pada Rabu menyimpulkan teks TFR sekarang ditutup pada tingkat politik. RUU itu sekarang akan beralih ke diskusi tentang aspek teknis teks, sebelum menuju persetujuan oleh beberapa Komite Uni Eropa dan Parlemen secara keseluruhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global uni eropa pencucian uang cryptocurrency
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top