Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Menkeu Sri Mulyani Beberkan Senjata Termurah Turunkan CO2

Sebagaimana diketahui Indonesia menargetkan emisi karbon sebesar 29 persen pada 2030 dan mencapai bebas emisi karbon pada 2060.
Menkeu Sri Mulyani Beberkan Senjata Termurah Turunkan CO2. /KKP
Menkeu Sri Mulyani Beberkan Senjata Termurah Turunkan CO2. /KKP

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan, kontribusi biaya pendanaan Nationally Determined Contribution (NDC) untuk sektor kehutanan hanya memerlukan Rp77,8 triliun atau US$5,6 miliar untuk menurunkan emisi karbon.  Sementara itu, dibandingkan dengan sektor energi dan transportasi, kebutuhan biayanya mencapai Rp3.307 triliun.

Meski memerlukan dana yang lebih sedikit yakni Rp77,8 triliun, faktanya sektor kehutanan mampu memberikan kontribusi penurunan paling besar yakni sebesar 497 juta ton. Sementara jika menggunakan target NDC, sektor kehutanan dapat berkontribusi sebesar 692 juta ton.

Sedangkan sektor energi dan transportasi dengan biaya yang jauh lebih besar hanya mampu menurunkan CO2 sebesar 314 juta ton.

"Rp77 triliun vs Rp3.300 triliun, you can see the different," kata Sri Mulyani dalam Kongres Kehutanan Indonesia VII, Selasa (28/6/2022).

Kendati menjadi kontributor terbesar, Sri Mulyani berharap Indonesia tak hanya mengandalkan sektor kehutanan saja.

Sektor-sektor lain seperti energi dan transportasi, IPPU, limbah dan pertanian juga diperlukan guna membantu menurunkan CO2 meskipun ada konsekuensi dari segi biaya yang berbeda-beda.

Adapun Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan pemerintah menargetkan Indonesia bisa bebas emisi karbon pada tahun 2060.

“Kita tahu bahwa target-target yang telah kita sepakati bersama dengan dunia, di 2025 kita harus (turun) di 23 persen, di 2030 di 29 persen dan nanti di 2060 emisi nol itu harus semuanya kita dapatkan,” kata Jokowi.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ni Luh Anggela
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper