Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Subsidi Silang Tiket Pesawat, Pengamat: Ini yang Lebih Penting

Pengamat penerbangan menilai ada hal yang lebih penting dibandingkan dengan subsidi silang tiket pesawat.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 21 Juni 2022  |  18:41 WIB
Subsidi Silang Tiket Pesawat, Pengamat: Ini yang Lebih Penting
Ilustrasi pesawat terbang. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Pemulihan kapasitas pesawat dinilai lebih penting dan mendesak dibandingkan dengan mekanisme subsidi silang tiket pesawat yang saat ini diusulkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno.

Pemerhati penerbangan Gerry Soejatman berpendapat mekanisme subsidi silang yang dimaksud malah akan memperlambat pemulihan kapasitas. Saat ini tiket mahal karena tingkat permintaan naik dan pasokan terbatas. Namun, harga tiket ekonomi domestik juga masih dilindungi oleh Tarif Batas Atas (TBA) sehingga masyarakat masih terlindungi dari kenaikan yang terlalu tinggi.

“Pemulihan kapasitas pesawat lebih penting dan urgent dibandingkan dengan subsidi silang,” ujarnya, Selasa (21/6/2022).

Dia memaparkan bahwa bagi maskapai yang sudah merugi parah selama pandemi Covid-19, justru menggunakan keuntungan dari harga tiket yang mahal untuk bisa memulihkan kapasitas. Caranya, baik dengan mereaktivasi jumlah pesawat yang selama ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas jumlah yang ada dengan menambah utilisasi pesawat.

Kemudian dengan meningkatkan biaya yang mendukung maintenance atau bahkan mengadakan penambahan jumlah pesawat dari leasing. Namun, hal ini tentunya membutuhkan kinerja keuangan yang positif dan down payment sewa antara 3 bulan - 9 bulan sewa dengan kondisi pesawat baru bisa aktif setelah 3 bulan - 6 bulan setelah perjanjian kontrak.

Belum lagi, maskapai penerbangan saat ini juga masih menanggung kewajiban untuk membayar gaji karyawan yang tertunda atau terpotong selama pandemi.

Dia berpendapat rata-rata maskapai sudah menjual tiket murah untuk pemesan jauh hari sebelum keberangkatan. Alhasil, menjadi wajar apabila tarif mengalami penaikan dengna tingkat permintaan makin tinggi.

“Berarti kan ada penumpang yang dapat tiket murah di penerbangan itu. Jangan cuman karena last minute mahal lalu dianggap sepesawat harganya mahal semua. Namun di sisi lain, ini kan sudah masuk ke peak season [musim libur sekolah], wajar kalau tiket ke destinasi wisata jadi mahal dan cepat habis,” tekannya.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menjelaskan mekanisme subsidi silang bukan dengan menaikkan tarif kelas bisnis karena hal tersebut menyulitkan bagi maskapai. Melainkan, mekanisme subsidi silang ini melibatkan pengelola event dan ekosistem penerbangan lainnya.

Skema ini, jelasnya, memungkinkan adanya penjualan paket-paket wisata yang di dalamnya mencakup event, destinasi, akomodasi, pengelola tempat wisata, penyelenggara event, dan operator pesawat.

"Perusahaan-perusahaan besar itu bisa saling melakukan cross subsidi sehingga paket yang ditawarkan itu akan lebih keseluruhan lebih terjangkau harganya," jelasnya dalam weekly press briefing, Senin (20/6/2022) malam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penerbangan tiket pesawat maskapai penerbangan
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top