Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ekspor Mei 2022 Anjlok 21,29 Persen, Gara-Gara Larangan Pengiriman CPO?

BPS melaporkan perkembangan ekspor pada Mei 2022 mencapai US$21,51 miliar atau anjlok sebesar 21,29 persen dibandingkan dengan April 2022 atau month-to-month (mtm). Apakah ini pengaruh dari restriksi ekspor CPO.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 15 Juni 2022  |  11:53 WIB
Ekspor Mei 2022 Anjlok 21,29 Persen, Gara-Gara Larangan Pengiriman CPO?
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perkembangan ekspor pada Mei 2022 mencapai US$21,51 miliar atau anjlok sebesar 21,29 persen dibandingkan dengan April 2022 atau month-to-month (mtm).

Sebelumnya pada April 2022 nilai ekspor sebesar US$27,32 miliar, sementara pada Mei 2022 turun menjadi US$21,51 miliar. Namun dibanding Mei 2021, nilai ekspor naik sebesar 27,00 persen year-on-year (yoy).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa (Disjas) BPS Setianto menyampaikan meski terjadi penurunan secara mtm, ekspor secara tahunan year-on-year (yoy) mengalami peningkatan namun terjadi perlambatan dibandingkan Mei 2020.

Ekspor Mei 2022 masih mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama pada 2021 namun mengalami perlambatan,” ujar Setianto saat menyampaikan Berita Resmi Statistik, Rabu (15/6/2022).

Penurunan ini terjadi akibat kebijakan pemerintah dalam pelarangan ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya sepanjang 28 April 2022 hingga 23 Mei 2022.

“Sektor yang mengalami penuruan secara mtm utamanya industri pengolahan yang mengalami penurunan eskpor terdalam yaitu turun 25,93 persen. Komoditas yang mengalami penurunan antara lain minyak kelapa sawit, pakaian jadi atau konveksi dari tekstil,” jelas Setianto.

Selain minyak kelapa sawit, penyumbang penurunan ekspor pada Mei 2022 sebesar 25,92 persen diakibatkan oleh turunnya ekspor komoditas sarang burung dan tanaman obat di sektor pertanian.

Pada sektor pertambangan juga mengalmai penurunan sebesar 12,92 persen yang didorong penurunan ekspor komoditas biji tembaga.

Meskipun mengalami penurunan, ekspor migas menjadi satu-satunya yang tumbuh pada Mei 2022 sebesar 4,38 persen (mtm) yang didorong oleh minyak mentah dan gas.

Ekspor nonmigas Mei 2022 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$4,59 miliar, disusul India US$2,26 miliar dan Amerika Serikat US$2,05 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 44,49 persen. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar US$4,07 miliar dan US$1,46 miliar, papar Setianto.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Mei 2022 mencapai US$114,97 miliar atau naik 36,34 persen dibanding periode yang sama tahun 2021. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$108,74 miliar atau naik 36,36 persen.

Menurut sektor, Setianto memaparkan ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Mei 2022 naik 25,00 persen dibanding periode yang sama tahun 2021, demikian juga ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 13,34 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 108,14 persen.

Terkait dengan penurunan ekspor pada Mei, Setianto menambahkan bahwa restriksi ekspor CPO dan penurunan permintaan dari beberapa mitra dagang bukan menjadi satu-satunya alasan utama. Pendeknya hari kerja akibat adanya libur Idul Fitri pada Mei 2022 turut memberikan andil. Pasalnya, libur mengurangi hari produksi di beberapa kegiatan industri. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor BPS cpo
Editor : Hadijah Alaydrus

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top