Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perkembangan Teknologi Baterai Kendaraan Listrik Sangat Cepat. Kerja Holding Sangat Lambat?

Tren pengembangan baterai listrik mengambil arah berbeda dari yang sebelumnya diramalkan. Bagaimana holding baterai bisa mengantisipasi hal tersebut sembari melanjutkan proyek hilirisasi?
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 02 Juni 2022  |  18:28 WIB
Perkembangan Teknologi Baterai Kendaraan Listrik Sangat Cepat. Kerja Holding Sangat Lambat?
Perakitan baterai untuk mobil listrik - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — BUMN Holding Industri Pertambangan, Mining Industry Indonesia atau MIND ID tengah menaruh perhatian khusus pada perkembangan teknologi pada industri batu baterai kendaraan listrik dunia yang bergerak relatif cepat pada beberapa waktu terakhir.

Sementara itu, perkembangan industri proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi di dalam negeri masih belum optimal. “Mengenai pengembangan baterai kendaraan listrik perkembangan terbarunya sangat cepat,” kata Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso saat rapat dengar pendapat [RDP] dengan Komisi VII DPR, Kamis (2/6/2022).

Hendi mengatakan holding-nya bakal terus mengamati arah perkembangan industri batu baterai kendaraan listrik dunia untuk menyesuaikan dengan rencana kerja hilirisasi nikel yang menjadi bahan baku utama dari dalam negeri.

“Kami akan memperhatikan pengembangan teknologinya, sehingga kita harus jeli tidak ketinggalan dalam pengembangan baterai kendaraan listrik dan jenis-jenisnya,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, rencana investasi Tesla Inc. terkait dengan upaya penguatan rantai pasok global baterai kendaraan listrik di Indonesia bakal memiliki hambatan yang serius.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan peluang kerjasama itu relatif sulit dilakukan lantaran Tesla sudah beralih untuk menggunakan katoda berbahan besi lithium iron phosphate atau LFP yang belakangan lebih efisien ketimbang bijih nikel limonit dan kobalt.

Situasi itu, kata Andry, bakal membuat posisi tawar nikel Indonesia kalah bersaing dengan bahan baku baterai kendaraan listrik yang telah digunakan untuk mobil listrik Tesla Model 3 tipe Standard Range.

“Ketika harga nikel dunia meningkat akibat moratorium ekspor nikel Ore dari Indonesia, Elon mencari cara dan ketemu bahwa salah satu sumber baterai yang murah dan aman itu menggunakan LFP, sehingga kita lihat kompetisi antara baterai yang diproduksi oleh LFP dan nikel kobalt,” kata Andry melalui pesan suara, Selasa (17/5/2022).

Dengan demikian, Andry menilai, kesepakatan atau komitmen investasi dari Tesla Inc di Indonesia belum sepenuhnya jelas. Maksudnya, kebutuhan untuk bahan baku baterai kendaraan listrik untuk mobil pabrikan Tesla sudah dipasok lewat LFP tersebut.

Sementara, Andry menambahkan, bahan baku dari bijih nikel limonit dan kobalt relatif mahal dan pasokannya masih dinilai tidak memenuhi standar ESG untuk industri kendaraan listrik dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik listrik Kendaraan Listrik Sepeda Motor Listrik Mobil Listrik Baterai Mobil Listrik MIND ID
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top