Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

JD.ID PHK Karyawan, Ternyata Perusahaan Induknya di China 'Berdarah-darah' Juga

JD.com, induk JD.ID, ternyata juga telah memangkas staf untuk mengurangi biaya.
Khadijah Shahnaz
Khadijah Shahnaz - Bisnis.com 27 Mei 2022  |  13:58 WIB
Lambang e-commerce JD.com - Bloomberg
Lambang e-commerce JD.com - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Kabar tidak menyenangkan datang dari sejumlah startup dan perusahaan teknologi di Tanah Air, salah satunya e-commerce JD.ID yang melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK terhadap sejumlah karyawannya.

Director of General Management JD.ID Jenie Simon mengungkapkan bahwa keputusan memberhentikan sejumlah karyawan merupakan bagian dari restrukturisasi perusahaan.

"JD.ID juga melakukan pengambilan keputusan seperti tindakan restrukturisasi, yang mana di dalamnya terdapat juga pengurangan jumlah karyawan,” jelas Jenie, dalam keterangannya, Kamis (26/5/2022).

Dengan adanya PHK ini pun, Jenie mengatakan akan patuh dan tunduk terhadap regulasi ketenagakerjaan sesuai dengan peraturan pemerintah, dan akan memperlakukan dan memberikan hak karyawan, sebagaimana diatur dalam regulasi tersebut JD.ID juga mengatakan akan fokus pada pengoptimalan struktur ketenagakerjaan.

Dia menegaskan bahwa JD.ID memandang para karyawan sebagai aset vital dari perusahaan dan bagian dari sebuah keluarga besar.

"Yang mana arti-nya JD.ID memiliki kewajiban untuk menjaga kesejahteraan para karyawan-nya, sekaligus mengembangkan potensi mereka untuk dapat memberikan kinerja yang lebih efektif dan optimal bagi perusahaan,” tutup Jenie.

Dari penelusuran Bisnis, induk JD.ID, yakni JD.com Inc tengah menanggung beban cukup besar. CEO JD.com Xu Lei mengatakan bahwa penyebaran virus Corona di berbagai kota besar di China, yang berujung lockdown di Shanghai dan Beijing, menjadi penyebab utama business online dan offline di China.

Dikutip dari KrASIA, Xu mengatakan kepada analis dalam panggilan konferensi, bahwa wabah Covid tahun ini telah menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada konsumen dan rantai pasokan daripada dua tahun sebelumnya.

“Epidemi domestik bermanfaat bagi sektor e-commerce dalam dua tahun pertama, karena area yang terkena dampak kecil dan durasinya pendek, dan ada pergeseran yang jelas dari konsumsi offline ke online. Tapi kali ini telah menjadi 'pembunuh ganda' [double killer] untuk perusahaan online dan offline,” kata Xu, yang mengambil alih sebagai CEO platform e-commerce dari pendiri JD.com Richard Liu bulan lalu.

JD.com pun harus memangkas staf untuk mengurangi biaya. Dilansir oleh Nikkei, seorang karyawan yang meminta anonim mengatakan bahwa sebagian besar departemen di JD.com memangkas jumlah karyawan sebesar 20 persen - 40 persen. Adapun, unit untuk pembelian kelompok komunitas, buku, dan kosmetik menderita pemotongan terbesar.

Tidak hanya ini, JD.com pun terancam delisting dari bursa AS. Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) telah menambahkan lebih dari 80 perusahaan ke daftar potensi penghapusan saham atau delisting emiten asal China. Dalam daftar tersebut terdapat nama-nama perusahaan termasuk JD.com Inc., Pinduoduo Inc., dan Bilibili Inc.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

phk JDID Lockdown
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top