Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jalan Panjang Digitalisasi Logistik, 90 Persen Masih Pakai 'Pulpen dan Kertas'

Permasalahan pada sektor logistik masih dialami bahkan pada akar rumput. Dunia usaha termasuk logistik di dalamnya masih menjalankan usaha dengan cara konvensional.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 20 Mei 2022  |  21:16 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/2/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/2/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Industri logistik masih memiliki perjalanan jauh menuju digitalisasi. Alhasil, kondisi ini berdampak pada efektivitas dan efisiensi pengiriman barang baik antara business-to-business (b2b) maupun business-to-consumer (b2c).

Perusahaan penyedia jasa solusi logistik dan pergudangan terintegrasi, McEasy, menyampaikan bahwa permasalahan pada sektor logistik masih dialami bahkan pada akar rumput. Khususnya pada tatanan mikro, McEasy melihat bahwa dunia usaha termasuk logistik di dalamnya masih menjalankan usaha dengan cara konvensional.

Co-Founder McEasy Hendrik Ekowaluyo mencatat bahwa banyak dari proses bisnis secara b2b masih belum mengadopsi teknologi digital. Dia menyebut bahkan 90 persen dari dunia bisnis atau usaha masih mengadopsi cara konvensional.

"Kita lihat b2b itu masih konvensional. Jadi ini hampir 90 persen bisnis itu masih pen and paper," ujarnya di Jakarta, Rabu (18/5/2022).

Salah satunya pada sektor logistik, Hendrik melihat bahwa penggunaan cara yang konvensional membuat pelaku industri tidak efektif dan efisien dalam menjalankan operasional bisnis sampai dengan mengawasi aset perusahaan yakni armada maupun driver.

"Biaya buat driver saja untuk perjalanan setiap hari itu masih dicatat manual dengan tangan dan menggunakan cash," ujarnya.

Sebaliknya, bisnis b2c seperti e-commerce seperti diketahui sudah mengadopsi digital mulai dari operasional bisnis, pengawasan, sampai dengan urusan driver/kurir.

Ketimpangan itulah yang dinilai Hendrik perlu diatasi dengan misalnya menerapkan transportation management system (TMS), bagi pelaku jasa logistik.

"Tantangan kita mengadopsi kesuksesan ini (b2c) dimasukkan ke b2b. Itu selalu yang disorot," jelas Hendrik.

Untuk itu, Hendrik menyampaikan bahwa hal tersebut yang menjadi tantangan McEasy sebagai perusahaan penyedia solusi logistik dan pergudangan melalui integrasi sistem secara all-in-one.

Sejalan dengan hal tersebut, perusahaan yang berdiri sejak 2017 itu meluncurkan "Gerakan 1 Juta Kendaraan" untuk mendukung

percepatan digitalisasi di sektor logistik dan transportasi pada era industri 4.0. Gerakan tersebut bertujuan untuk mewujudkan ekosistem transportasi dan logistik yang terkoneksi dan terintegrasi dari hulu ke hilir.

Hendrik menargetkan untuk mendigitalisasi dan mengintegrasikan setidaknya satu juta kendaraan roda empat ke dalam ekosistem logistik dan transportasi McEasy hingga 2025. Tidak hanya ditujukan untuk membentuk suatu ekosistem, namun gerakan tersebut juga diharapkan bisa membantu pemerintah menurunkan biaya logistik yang tinggi.

"Terkait dengan dampak logistik terhadap ekonomi makro, kita sangat mendukung bisa menurunkan biaya logistik seperti yang diharapkan pemerintah," tutur Hendrik.

Biaya Logistik 

Adapun, biaya logistik di Tanah Air dinilai sangat tinggi bahkan salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. Utamanya, karena Indonesia merupakan negara berbentuk kepulauan.

Terkait dengan isu tersebut, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto menyoroti sejumlah faktor lain penyebab tingginya biaya logistik di Indonesia, seperti premanisme dan minimnya penggunaan logistik pelayaran jangka pendek crossborder.

Menurut Mahendra, biaya logistik yang tinggi menjadi tantangan dalan sektor industri tersebut. Bahkan, Presiden Joko Widodo sempat menyoroti tingginya biaya logistik di Indonesia sebagai salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.

“Ini yang harus kita lewati untuk seluruh produk. Bayangkan 17.000 pulau dan 270 juta penduduk,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Mahendra mengatakan perlu adanya pengawasan dan perhatian yang diberikan secara detail pada setiap tahapan logistik mulai dari pabrik sampai pelanggan. Apabila proses tidak diawasi secara detail maka akan terjebak pada berbagai permasalahan, salah satunya adanya pungutan liar pada aspek transportasi barang.

“Ini di luar kontrol kita. Salah satu penyebab biaya logistik tinggi itu karena ada pungli,” ujarnya.

Selain itu, dia mendorong agar kegiatan logistik, utamanya first mile, agar bisa memprioritaskan moda pelayaran laut jangka pendek atau short-sea shipping dengan kapal Ro-Ro.

Dia menyebut penggunaan kapal Ro-Ro lebih efektif dan efisien, di mana truk-truk secara mandiri naik ke kapal dan begitu pula saat turun saat kapal menyandar. Contohnya, Filipina yang menggunakan kapal roro untuk yang menghubungkan pergerakan antarpulau.

“Jadi gak perlu crane. Karena kalau ada crane itu potensi bottleneck,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik e-commerce digitalisasi
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top