Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemerintah Tekan Rendah Harga Patokan Bahan Baku Baterai Listrik, Ini Tanggapan IBC

Insentif bakal membantu industri dari sisi kelayakan investasi pada pemurnian bahan baku baterai kendaraan listrik tersebut. Alasannya, industri nikel kelas 1 yang mengolah bijih nikel limonit lewat proses high-pressure acid leaching (HPAL) relatif berisiko tinggi dari segi intensitas nilai investasi.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 12 Mei 2022  |  18:13 WIB
Briket nikel di fasilitas pengolahan komoditas tersebut di Australia. - Bloomberg/Philip Gostelow
Briket nikel di fasilitas pengolahan komoditas tersebut di Australia. - Bloomberg/Philip Gostelow

Bisnis.com, JAKARTA — PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) menilai positif komitmen pemerintah untuk menyiapkan insentif bagi industri nikel yang ambil bagian dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik berbasis katoda nikel.

Adapun, pemerintah tengah menyiapkan formula baru untuk menekan harga patokan bijih nikel limonit dan memangkas tarif khusus royalti nikel kadar rendah itu menjadi 2 persen.

“IBC menyambut baik rencana pemerintah dalam memberikan stimulasi investasi untuk industri nikel kelas 1 yang akan menjadi rantai penting dalam pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik berbasis katoda nikel,” kata Corporate Secretary IBC Muhammad Sabik melalui pesan WhatsApp, Kamis (12/5/2022).

Sabik mengatakan rancangan insentif itu bakal membantu industri dari sisi kelayakan investasi pada pemurnian bahan baku baterai kendaraan listrik tersebut. Alasannya, industri nikel kelas 1 yang mengolah bijih nikel limonit lewat proses high-pressure acid leaching (HPAL) relatif berisiko tinggi dari segi intensitas nilai investasi.

“Mengolah bijih nikel limonit ini memiliki risiko yang masih cukup tinggi, yaitu dengan intensitas nilai investasi per ton nikel yang lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan smelter nikel yang sudah banyak beroperasi dengan mengolah bijih saprolit,” tuturnya.

Selain itu, kata dia, pabrik HPAL juga memiliki risiko operasional dari sisi keberlanjutan hingga ketercapaian kapasitas rancangan dan biaya produksi nikelnya. Hal itu berkaca dari sejumlah instalasi HPAL di dunia.

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah tengah merampungkan rancangan insentif untuk industri hilir nikel dalam negeri yang berkaitan dengan rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik global. Rencananya pemerintah bakal memangkas tarif royalti khusus untuk nikel limonit yang digunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik cukup dalam dari pungutan yang berlaku saat ini sebesar 10 persen.

Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sunindyo Suryo Herdadi mengatakan langkah itu diambil untuk menciptakan iklim investasi yang kompetitif pada industri baterai berbahan baku nikel di dalam negeri.

“Penurunan tarif royalti khusus untuk nikel limonit yang digunakan sebagai bahan baku baterai, di mana saat ini tarif royalti bijih nikel tidak dibedakan antara saprolite dan limonit yaitu sebesar 10 persen,” kata Sunindyo melalui pesan WhatsApp, Selasa (12/5/2022).

Selain pemangkasan tarif pungutan, Kementerian ESDM juga berencana untuk menetapkan formula baru untuk penentuan harga patokan bijih nikel limonit yang lebih rendah dibandingkan dengan harga bijih nikel untuk pemurnian produk lainnya.

“Langkah itu untuk menjadi daya tarik berkembangnya industri baterai berbahan baku nikel di dalam negeri, saat ini kebijakan atau insentif itu masih dalam proses penyesuaian regulasinya [di Kementerian Keuangan],” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top