Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Embargo Minyak Rusia Bikin Harga Kian Bergejolak

Harga minyak bergejolak akibat embargo Uni Eropa terhadap minyak dari Rusia.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 28 April 2022  |  19:23 WIB
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak semakin bergejolak setelah upaya embargo Uni Eropa terhadap minyak Rusia dan juga dampak lockdown di China.

Dilansir Bloomberg pada Kamis (28/4/2022), harga berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun 0,9 persen menjadi US$102,89 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 9.56 pagi waktu London. Harga sempat naik 0,3 persen pada Rabu.

Sementara itu, minyak brent untuk pengiriman Juni naik 0,7 persen menjadi US$106,10 per barel pada perdagangan ICE Futures Europe setelah sempat naik 0,3 persen pada Rabu.

“Sungguh luar biasa bagaimana kita berakhir dengan perdagangan penuh belokan ini,” kata ekonom energi senior ABN Amro Hans van Cleef.

Menurutnya, menurunnya permintaan karena lockdown di China sepenuhnya menyeimbangkan kekhawatiran pasokan ekspor yang juga turun dari Rusia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Rusia mengatakan bahwa produksi minyak akan turun sekitar 17 persen pada tahun ini karena produknya dijauhi oleh pelanggannya.

Negara Uni Eropa tengah bergegas untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi dari Rusia mengikuti invasi Rusia ke Ukraina.

Sebelumnya, Jerman menyatakan akan mendukung penangguhan minyak Rusia secara bertahap. Padahal, sebelumnya Jerman menolak pelarangan ini karena minyak dari Rusia berkontribusi hingga sepertiga dari total kebutuhan nasionalnya.

Pejabat Uni Eropa tengah melakukan pembicaraan untuk potensi langkah membatasi impor minyak dari Rusia. Pada Selasa, Jerman mengatakan embargo sepenuhnya akan menyesuaikan.

Sementara itu, Amerika dan Inggris telah berjanji untuk melarang impor dari anggota OPEC+ itu.

Risiko geopolitik terbaru ini muncul tepat di saat pasar minyak bergejolak lagi.

Pasokan minyak Amerika Serikat turun, memperluas gap pada spread antara kontrak diesel bulan depan dan kontrak diesel yang akan datang.

Persediaan sulingan pantai timur berada di titik terendah sejak 1996 dan minyak diesel berjangka AS mencapai rekor baru pada Selasa.

Manajer Portofolio Tortoise Brian Kessens mengatakan jika embargo Uni Eropa terhadap minyak Rusia dilaksanakan, maka akan membuat minyak semakin berharga bagi pasar.

"Semuanya sama, kita akan melihat reli minyak yang signifikan sejauh itu adalah embargo minyak yang sebenarnya," ungkapnya.

Pasar minyak harus menghadapi periode perdagangan yang bergejolak sejak invasi Rusia ke Ukraina pada akhir Februari dan kembalinya Covid-19 baru-baru ini di China.

Kendati sudah ada pelonggaran lockdown di China, penguncian telah menyebabkan stok membengkak di negara importir minyak mentah terbesar di dunia ini.

Presiden China Xi Jinping mulai meningkatkan perhatian kepada pertumbuhan ekonomi dengan mendorong pembangunan infrastruktur.

Sebelumnya, Rusia telah menyetop aliran gas ke Polandia dan Bulgaria karena menolak permintaan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melakukan pembayaran dengan rubel.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak Rusia minyak mentah Perang Rusia Ukraina

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top