Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Sentral Turki Bakal Kerek Proyeksi Inflasi

Ketika bank sentral di dunia mulai menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi dan dampak invasi Rusia, Turki justru mengambil arah yang berbeda.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 28 April 2022  |  14:51 WIB
Uang lira Turki. - Reuters/Murad Sezer
Uang lira Turki. - Reuters/Murad Sezer

Bisnis.com, JAKARTA — Inflasi di Turki diprediksi bakal naik seiring dengan harga konsumen yang sudah melonjak hampir tiga kali lipat dari perkiraan awal. Pada saat yang sama, bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga murah.

Dilansir Bloomberg pada Kamis (28/4/2022), proyeksi yang baru kemungkinan akan memberikan petunjuk bagi investor pada peta jalan bank sentral. Namun, publikasi data tidak akan terlalu diekspos seiring dengan tujuan politik Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Gubernur Bank Sentral Republik Turki (CBRT) Sahap Kavcioglu akan menjelaskan skenario bank sentral untuk kebijakan harga pada 2022 hingga 2 tahun ke depan pada Mei.

Ketika bank sentral di dunia mulai menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi dan dampak invasi Rusia, Turki justru mengambil arah yang berbeda.

CBRT telah menahan suku bunga dalam empat pertemuan bulanan pada tahun ini setelah penurunan agresif pada akhir 2021 yang telah memukul lira dan memanaskan inflasi ke level tertinggi sekak 20 tahun terakhir.

Namun, Turki telah memperkenalkan rangkaian kebijakan yang tidak biasa untuk menyelamatkan lira dan meningkatkan cadangan bank sentral.

Lira melemah hanya sekitar 0,7 persen dibandingkan dengan dolar sejak kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Maret. Sayangnya, strategi bank sentral tidak cukup ampuh untuk meredam inflasi tahunan yang saat ini melampaui 60 persen.

"Tidak masuk akal untuk mengandalkan efek basis ketika CPI [indeks harga konsumen] utama tetap tinggi untuk waktu yang lama pada saat kita tidak melihat ekspektasi inflasi yang kuat," kata Emre Akcakmak, konsultan senior untuk East Capital International di Dubai.

Pada laporan Januari, bank sentral memprediksi bahwa kenaikan harga konsumen akan berakhir pada 2022 di level 23,2 persen dan menjadi 8,2 persen pada 2023. Prediksi ini dibuat sebelum invasi Rusia ke Ukraina.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global Inflasi Suku Bunga turki
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top