Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BPKH Putar Otak Siasati Kenaikan Biaya Haji, Ini Strateginya

Biaya haji dari tahun ke tahun makin menanjak sehingga Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) harus berinvestasi di Arab Saudi.
Ilustrasi/Antara
Ilustrasi/Antara

Lebih Baik dari Sukuk

Hurriyah meyakini bahwa investasi di sektor riil ini lebih baik dari sekadar investasi pada sukuk. Investasi pada sukuk hanya 5 persen, sedangkan dolar AS pergerakannya 4,5-6,5 persen sehingga ada selisih pergantian kurs. 

“Selisih pergantian kurs saja siapa yang mau nombok. Ini belum masuk ke biaya inflasi Indonesia dan Saudi, akan menaikan biaya,” imbuhnya.

Namun, ia menegaskan keberadaan BPKH bertujuan untuk membantu rakyat terkait ibadah haji. Jangan sampai jemaah sudah menyimpan dana puluhan tahun, ternyata masih harus menambah biaya ketika harus pergi haji.

“Kita kalau cuma investasi di sukuk tidak cukup. Coba masuk ke bisnis, kita punya hotel, income dari kita lakukan bisnis ini, itu minimal hampir tiga kali lipat dari sukuk dan dalam mata uang asing.  Artinya jemaah tidak perlu nombok. Harusnya uang daftar itu sudah mencukupi tidak perlu tambah Rp10-20 juta karena kita sudah lakukan bisnis. Semua margin masuk ke kantong kita,” jelasnya.

Dia sudah menghitung skala ekonomi dari investasi ini. Dengan menyertakan 15 persen dana kelolaan BPKH ke dalam investasi sektor riil di Arab Saudi, maka skala ekonomi yang akan diperoleh adalah 7 kali lipat untuk Indonesia.

Sebagai contoh, tuturnya, ketika membuat rumah Indonesia atau rest area, tentu pemerintah perlu mengisi tempat itu sehingga membuka peluang bisnis bagi orang Indonesia. Ketika membuka pabrik makanan, tentunya memerlukan bahan-bahan dari Indonesia dan mesti mempekerjakan orang Indonesia pula.

“Saat ini lebih dari 600.000 orang Indonesia di Saudi tidak jelas nasibnya karena dampak pandemi. Itu jadi beban kedua negara. Kalau kita bantu pekerjakan di pabrik, kondisi mereka lebih baik dan kalau mereka mendapatkan penghasilan, bisa mengirimkan ke keluarga mereka di Indonesia,” ungkapnya.

Berdasarkan hitung-hitungannya secara konservatif, dengan berinvestasi Rp30 triliun, dalam lima tahun minimal akan ada nilai manfaat sebesar Rp200 triliun atau setara dengan kapasitan pengelolaan BPKH saat ini. Jumlah Rp30 trriliun itu pun menurutnya tidak hilang karena menjadi aset riil seperti hotel atau pabrikan kendaraan bus yang nilai asetnya akan naik tiap tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper