Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ngeri! Kenaikan Harga Gas Pasca Konflik Rusia-Ukraina Bisa Picu Krisis Pangan

Rusia merupakan produsen energi utama dunia, di mana batu bara, minyak dan gasnya masing-masing menyumbang 18, 11, dan 10 persen dari ekspor global.
Faustina Prima Martha
Faustina Prima Martha - Bisnis.com 17 Maret 2022  |  12:54 WIB
Potret Vladimir Putin, Presiden Rusia, dipajang di toko Angkatan Darat Rusia di Moskwa, Rusia, Rabu (23/2/2022). Pasukan Rusia menyerang Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi untuk
Potret Vladimir Putin, Presiden Rusia, dipajang di toko Angkatan Darat Rusia di Moskwa, Rusia, Rabu (23/2/2022). Pasukan Rusia menyerang Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi untuk "demiliterisasi" Ukraina, yang memicu kecaman internasional dan ancaman AS akan "sanksi berat" lebih lanjut terhadap Moskwa. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Konflik antara Ukraina dan Rusia telah membuat harga minyak dan gas (migas) serta komoditas lainnya melonjak selama beberapa pekan terakhir. Kenaikan harga gas berdampak pada peningkatan harga dan gangguan pasokan amonia, yang merupakan produk turunan gas alam.

Probabiloitas kelangkaan amonia yang banyak digunakan sebagai pupuk untuk meningkatkan produksi hasil pertanian disebabkan karena fluktuasi harga komoditas energi global.

Rusia adalah salah satu kontributor utama di pasar energi global, dapat memicu krisis pangan dunia. Negeri "Beruang Merah" tersebut diketahui merupakan produsen energi utama dunia, di mana batu bara, minyak dan gasnya masing-masing menyumbang 18, 11, dan 10 persen dari ekspor global.

Gas alam diperlukan sebagai bahan baku energi utama untuk sintesis nitrogen untuk menghasilkan amonia. Amonia kemudian diolah menjadi berbagai macam pupuk seperti diammonium fosfat (DAP), monoammonium fosfat (MAP) hingga beragam pupuk NPK membutuhkan. Sebagian besar produsen amonia berada di Eropa dan Amerika Utara.

Harga amonia di Eropa yang energinya sebagian besar ditopang oleh produksi Rusia, semakin melambung, yang bisa memperparah kondisi pasokan pupuk global yang di saat bersamaan harganya ikut naik.

Ketatnya pasokan dan harga amonia yang lebih tinggi tentu menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian global, yang akhirnya dapat menjadi ancaman terjadinya krisis pangan.

Selain itu, Rusia juga merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan signifikan untuk kalium dan fosforus yang merupakan komponen utama pupuk NPK.

Lembaga penyedia data pasar, Argus Media, menyebutkan bahwa hingga saat ini dampak awal yang dirasakan masih terbatas dalam hal gangguan pasokan fisik. Akan tetapi dalam jangka panjang, ketakutan tersebut akan meningkatkan profil risiko perdagangan pupuk.

Amonia merupakan salah satu komoditas yang paling dipantau sejak awal konflik. Tahun 2021 lalu, sekitar 2,4 juta ton amonia dikirim dari pelabuhan Pivdenny (Odessa, kota di bagian selatan Ukraina), akan tetapi hanya 150.000 ton yang berasal dari domestik. Sisanya adalah amonia Rusia yang dikirim melalui pipa dari TogliattiAzot dan Rossosh, masing-masing menyuplai 1,8 juta dan 0,5 juta ton/tahun, melalui Pivdenny.

Menteri Pertanian Ukraina, Roman Leshchenko mengatakan akan menghentikan ekspor pupuk dari Ukraina.

"Kabinet para menteri menetapkan kebijakan kuota nol untuk ekspor pupuk mineral yang secara de facto melarang ekspor pupuk dari Ukraina,” tutur Leshchenko dilansir dari The Global Times, Kamis (17/03/2022).

Konflik di Ukraina telah memaksa penutupan pipa amonia Togliatti-Pivdenny dan penghentian pengiriman dari Ukraina. Hal ini berimplikasi pada pasokan dan harga pupuk di beberapa negara, tahun lalu ekspor utama amonia dari Odessa dikirim ke Maroko (800.000 ton), Turki (600.000 ton), India (360.000 ton) dan Tunisia (190.000 ton).

Artinya produsen DAP dan MAP yang tidak terintegrasi (dengan amonia) di Afrika utara akan menjadi yang paling terganggu dalam waktu dekat.

Argus menyatakan dampak penghapusan Rusia dari sistem transaksi keuangan SWIFT dan sanksi yang dikenakan terhadap bank Rusia pada penjualan pupuk masih belum dapat diketahui secara pasti tingkat keparahannya.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dalam laporannya baru-baru ini mencatat bahwa dengan naiknya harga pupuk dan produk padat energi lainnya karena konflik, dapat mengakibatkan daya beli yang lebih rendah bagi petani dan pada akhirnya mengurangi tingkat penggunaan pupuk. Hal ini tentu berimbas pada berkurangnya total produksi di sektor pertanian, yang mana di saat bersamaan juga disertai dengan penurunan kualitas.

Saat ini, harga komoditas utama dunia dari sektor pertanian dan perkebunan juga telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan - tidak sepenuhnya atau serta merta dipengaruhi oleh kondisi pasokan amonia dan pupuk - ke level yang tidak diprediksi sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gas pangan pertanian pupuk Harga Gas gas alam amoniak
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top