Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi Mulai Pulih, Ritel Segmen Besar Diprediksi Punya Prospek Positif

Ritel segmen besar dinilai masih membutuhkan suntikan finansial agar dapat bangkit dari pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun.
Annasa Rizki Kamalina
Annasa Rizki Kamalina - Bisnis.com 16 Maret 2022  |  21:00 WIB
Lulu Hypermarket - 248am.com
Lulu Hypermarket - 248am.com

Bisnis.com, JAKARTA – Ritel modern segmen besar seperti department store dan hypermarket tengah bersiap pulih dari pandemi dengan mulai melakukan pengembangan dan ekspansi, kendati masih perlu dukungan finansial.

Pengamat ritel Yongky Susilo mengatakan bahwa saat ini ritel segmen besar masih membutuhkan suntikan finansial agar dapat bangkit dari pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun.

“Untuk ritel segmen besar termasuk department store, butuh dukungan finansial untuk recovery dari pandemi dua tahun. Jadi suntikan [dana] akan membantu,” kata Yongky, Rabu (16/3/2022).

Menurutnya, pandemi membuat banyak ritel segmen besar terpaksa menutup toko. Tetapi, adanya pelonggaran mobilitas dan mulainya pemulihan ekonomi akan memberikan oksigen bagi para peritel untuk mengembangkan usahanya.

Yongky melihat akan ada pertumbuhan dan ekspansi secara perlahan bagi sektor tersebut. Kendati demikian, dia mengkhawatirkan adanya varian baru Covid-19 yang kemungkinan akan menjadi kendala.

“Jika saat pandemi ritel banyak tutup toko, sekarang fokus pada pengembangan pertumbuhan organik, dan plan kecil ekspansi, perlahan,” jelas Yongky.

Yongky melanjutkan selama ini bahwa musuh para pelaku ritel dan ekonomi adalah adanya pembatasan mobilitas. Dia memperkirakan daya beli akan terus meningkat tahun ini dengan harapan tidak ada lagi pembatasan sosial.

Di sisi lain, ancaman inflasi dan telatnya bonus tunjangan hari raya (THR) menjelang idulfitri dinilai Yongky akan menghambat daya beli masyarakat. Hal ini menjadi tantangan lagi bagi pelaku ritel segmen besar dan pusat perbelanjaan.

Sementara itu, Yongky juga melihat persaingan industri ritel segmen besar saat ini tidak terlalu terlihat karena tidak banyak pemain baru yang muncul.

Sebelumnya, Consilium Frontier Equity Fund LP menunjukkan ketertarikannya terhadap PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA). Dalam surat tertanggal 9 Maret 2022, terungkap mereka telah memborong saham MPPA pada 1 Maret 2022 — 2 Maret 2022.

Consilium memborong 12 juta lembar saham MPPA sepanjang periode tersebut. Untuk periode 1 Maret 2022, jumlah saham yang dibeli sebanyak 6 juta lembar dengan harga Rp280,1902 kemudian hari berikutnya dengan jumlah yang sama di harga Rp276,8019.

Dari sisi kinerja perseroan, MPPA mencatatkan total penjualan Rp4,9 triliun atau turun 3,6 persen secara tahunan selama Januari sampai September 2021. Kendati demikian, perusahaan, mengutip data NielsenIQ, menyebutkan pangsa pasar MPPA meningkat menjadi 27,6 persen pada kuartal III/2021 di tengah implementasi PPKM ketat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hypermarket matahari putra prima ritel modern
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top