Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Efek Pandemi, Kerugian Angkasa Pura I Tembus Rp2 Triliun pada 2021

PT Angkasa Pura I (persero) harus rela membukukan kerugian lebih dari Rp2 triliun (belum diaudit) imbas dari pandemi Covid-19.
Bandara Sam Ratulangi di Manado, Sulawesi Utara. /Dok. Angkasa Pura I
Bandara Sam Ratulangi di Manado, Sulawesi Utara. /Dok. Angkasa Pura I

Bisnis.com, JAKARTA – PT Angkasa Pura I (persero) menutup kinerja 2021 dengan kerugian senilai lebih dari Rp2 triliun (belum diaudit) akibat pandemi Covid-19.

Direktur Kepatuhan, Aset dan Pengadaan AP I Israwadi mengatakan dampak pelemahan ekonomi akibat Covid-19 telah dirasakan sejak Maret 2021. Berdasarkan statistik AP I, ini ditandai dengan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 2,1 persen.

Dia menyebutkan dari penurunan PDB tersebut, ada tiga sektor yang sangat berdampak, yaitu sektor transportasi udara, rel, dan akomodasi. Penurunan drastis dialami oleh sektor transportasi yakni sebesar 53 persen dari PDB kemudian diikuti rel dan akomodasi. 

Belum lagi, lanjutnya, proyeksi pergerakan global pada 2021 ternyata tidak seperti yang banyak diprediksikan oleh banyak pengamat.

“Ini berimbas kinerja keuangan terutama pendapatan. Bandara itu karakteristiknya mayoritas fixed cost. Sehingga pada 2020, Kami mulai rugi Rp2 triliun dan 2021 ini masih proses audit tapi juga rugi di atas Rp2 triliun,” ujarnya, Senin (14/3/2022). 

Israwadi memaparkan pergerakan di 15 bandara keloaan AP I pada 2019 mencapai 81,5 juta penumpang. Jumlah ini menyusut pada 2020 menjadi sebanyak 32,8 juta penumpang.

Kemudian, pada 2021, AP I berencana untuk memulai rebound  tetapi harapan tersebut harus pupus karena varian baru Covid-19 Delta dan Omicron membuat grafik penumpang turun ke angka 28,5 juta orang.

Sebagai gambaran dengan pergerakan lebih dari 81,5 juta penumpang pada 2019, AP I mampu meraup total pendapatan sekitar Rp8,7 triliun dan pada 2019 masih sempat mencicipi laba senilai Rp1,4 triliun.

Namun, pada 2020 pendapatan yang bersumber pergerakan penumpang dan pesawat anjlok menjadi hanya Rp3,9 triliun dan membukukan rugi Rp2 triliun. Kondisi tersebut berlanjut hingga tahun lalu.

Dia menuturkan sampai dengan kuartal III/2021, peningkatan pergerakan, vaksinasi serta penghapusan pembatasan mobilitas belum mampu memompa pertumbuhan bisnis ke level sebelum Covid-19. Dia menjelaskan sektor transportasi udara pada kuartal III/2021 sempat naik 137 persen tetapi kembali turun karena adanya varian Delta.

“Terakhir mau naik lagi [pergerakan] pada akhir 2021 tapi ada Omicron kembali turun,” imbuhnya. 

Sejah ini, grafik kinerja AP I sebelum dan sesudah Covid-19 masih menunjukkan penurunan. Faktanya, penurunan pergerakan penumpang telah terjadi pada 2019 dibandingkan dengan pada 2018 dengan adanya isu mahalnya tarif.

Setelahnya, pandemi Covid-19,  jumlah penumpang makin tergerus hingga menyisakan 46 persen dari kondisi normal. Kondisi lebih miris terjadi untuk penerbangan Internasional yang bahkan tergerus hingga 95 persen akibat pembatasan internasional.

“Bisa dikatakan memang sektor domestik masih menjadi tumpuan industri transportasi udara saat ini,” tekannya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper