Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BPS: Biaya Barang Modal Petani Naik 1,64 Persen pada Februari 2022

BPS mencatat biaya produksi dan penambahan barang modal petani naik 1,64 persen pada Februari 2022.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 01 Maret 2022  |  11:53 WIB
BPS: Biaya Barang Modal Petani Naik 1,64 Persen pada Februari 2022
Petani memanen tomat di sebuah lahan pertanian di lereng gunung Sinabung, Karo, Sumatera Utara, Minggu (7/6). - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan biaya produksi dan penambahan barang modal atau BPPBM untuk sektor hortikultura mengalami kenaikan sebesar 1,64 persen pada Februari 2022 secara bulanan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi Jasa BPS Setianto mengatakan kenaikan BPPBM itu disebabkan karena kenaikan sejumlah biaya produksi mencapai 0,59 persen jika dibandingkan dengan Januari 2022.

Sementara itu, BPS melaporkan, indeks harga terima petani (it) untuk sektor hortikultura mengalami kenaikan 2,24 persen secara bulanan. Torehan itu lebih tinggi dari kenaikan BPPBM sepanjang Februari 2022.

“Kalau kita lihat komoditas yang menghambat kenaikan penambahan barang modal ini yaitu bibit bawang daun,” kata Setianto melalui konferensi pers daring, Selasa (1/3/2022).

Di sisi lain, Setianto menambahkan, Nilai Tukar Usaha Petani atau TNUP pada sektor peternakan mengalami penurunan yang cukup dalam mencapai 1,10 persen jika dibandingkan dengan Januari 2022.

“Disebabkan karena indeks harga yang diterima peternak turun 0,94 persen sementara untuk penambahan barang modal itu mengalami kenaikan sebesar 0,16 persen,” kata dia.

Menurut laporan BPS, komoditas yang dominan memengaruhi BPPBM pada sektor peternakan itu di antaranya bekatul, bakalan sapi umur lebih dari 12 bulan dan pakan jadi yang berbentuk konsentrat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BPS petani
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top