Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

JLL: Investasi Real Estat Asia Pasifik Bakal Lampui US$200 Juta pada 2022

Laporan JLL Asia Pacific Capital Tracker 4Q21 menunjukkan volume investasi setahun penuh pada 2021 naik 26 persen secara tahunan.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 23 Februari 2022  |  13:57 WIB
Papan pemberitahuan yang memperingatkan
Papan pemberitahuan yang memperingatkan "Kita semua bisa menjadi pembawa Covid-19" berada di tempat publik di Sydney, Australia, Selasa (27/7/2021). Setelah sebulan melakukan Lockdown, kasus harian Covid-19 di kota Sydney tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Bloomberg - Brendon Thorne

Bisnis.com, JAKARTA – Investasi langsung di pasar real estat komersial Asia Pasifik mencapai US$177 miliar pada 2021 dengan volume belanja modal yang kembali ke level 2019.

Menurut data dan analisis yang dipublikasikan pada laporan JLL (NYSE:JLL) Asia Pacific Capital Tracker 4Q21, volume investasi setahun penuh pada 2021 naik 26 persen secara tahunan. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan aktivitas di Australia, China, dan stabilitas pasar di Jepang.

CEO Capital Markets JLL Asia Pacific Stuart Crow mengatakan pemulihan sektor real estat di Asia Pasifik menguat pada tahun lalu seiring bertambahnya arus modal dari investor yang menunjukkan kepercayaan jangka panjang melalui diversifikasi portofolio investasi di berbagai wilayah dan sektor.

"Meski para investor belum sepenuhnya kembali ke sektor properti Asia Pasifik, tetapi berdasarkan perbincangan kami dengan mereka, kami yakin ada keyakinan kuat untuk meningkatkan eksposur pada tahun 2022 dengan menargetkan transaksi yang lebih besar serta akuisisi platform,” ujarnya dalam laporan, Rabu (23/2/2021).

Australia adalah negara yang paling banyak menarik investasi di kawasan ini, dengan peningkatan volume transaksi mencapai US$35 miliar pada tahun lalu atau 170 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Aktivitas tersebut didorong oleh kenaikan transaksi platform logistik sepanjang tahun, dengan rekor tertinggi tercatat sebesar US$9,3 miliar. Angka ini termasuk pembelian portofolio Milestone senilai 3,8 miliar dolar Australia atau sebesar US$2,7 miliar oleh ESR dan GIC dari Blackstone.

Stuart menuturkan investasi perkantoran dan ritel juga mulai pulih yang terlihat dari transaksi besar-besaran Melbourne Quarter Tower oleh National Pension Service of Korea dan akuisisi 50 persen dari tiga aset ritel di Sydney oleh LINK REIT.

Transaksi di China meningkat 21persen secara tahunan menjadi US$39 miliar pada 2021 yang didorong oleh aktivitas di sektor ritel, logistik, dan pusat data.

"Pencatatan 13 surat berharga investasi properti [REITs] mendapat sambutan baik dari investor dan menandai perkembangan baru di pasar properti dalam negeri China," katanya.

Tahun ini sektor real estat di Jepang mencatat investasi langsung sebesar US$41 miliar, angka tersebut turun 4% jika dibanding tahun sebelumnya, meski di tengah ramainya bisnis multi-keluarga.

Di bisnis perkantoran, penjualan dan penyewaan kembali kantor pusat biro iklan Dentsu di Tokyo senilai US$2,8 miliar menjadi salah satu transaksi yang diperhitungkan.

Pada 2021, investasi logistik mencapai US$48 miliar atau tumbuh 50 persen secara tahunan dan mencapai dua kali lipat sejak 2019. Minat investor terhadap transaksi besar yang bernilai lebih dari US$300 juta meningkat tajam pada 2021.

"Data JLL menunjukkan adanya peningkatan investasi sebesar empat kali lipat di sektor ini selama dua tahun terakhir. JLL memperkirakan bahwa minat investor akan terus meningkat seiring pertumbuhan bisnis penyewaan di kawasan Asia Pasifik dan keinginan investor untuk mengatur ulang portofolio mereka, meskipun ada penurunan imbal hasil dari segmen logistik," tuturnya.

Menurutnya, psar perkantoran terus menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mencatatkan nilai investasi sebesar US$74 miliar pada 2021–naik 17 persen dibanding 2020.

Hal ini menjadikan sektor tersebut sebagai kelas real estat paling likuid di Asia Pasifik. JLL memprediksi minat di pasar perkantoran akan tumbuh 20-30 persen pada tahun ini seiring stabilnya tingkat penyewaan dan okupansi, serta para investor fokus pada faktor kualitas, kesehatan, dan keamanan dalam berinvestasi di bangunan Grade A.

Pulihnya tingkat belanja konsumen meningkatkan daya tarik aset ritel di kawasan tersebut pada 2021. Transaksi ritel naik 67 persen secara tahunan dengan nilai transaksi mencapai US$36 miliar. Hal ini turut dipengaruhi oleh tingkat belanja konsumen dan imbal hasil yang membangkitkan kepercayaan para investor.

Dibukanya kembali perjalanan antar negara secara bertahap dan harapan jangka panjang para investor terhadap sektor perhotelan mendorong peningkatan transaksi di sektor ini sebesar 39 persen secara tahunan menjadi US$8,5 miliar.

Berdasarkan estimasi JLL, China, Jepang, Korea dan Australia berkontribusi 82 persen dari total volume transaksi di sektor ini.

Head of Capital Markets Research Asia Pacific JLL Regina Lim menambahkan investor menginginkan lebih banyak eksposur ke sektor real estat Asia Pasifik untuk mendapatkan imbal hasil yang menarik.

"Mereka siap menaikkan kurva risiko untuk mendiversifikasi portofolio. Dengan berbagai kesempatan investasi dan meningkatnya permintaan, kami mengharapkan adanya momentum kenaikan pada 2022 dan kami tetap yakin bahwa volume investasi akan melampaui angka US$200 juta pada tahun ini,” tuturnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi asia pasifik properti
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top