Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terkait Kebocoran Data Nasabah, Credit Suisse Bantah Pelanggaran Internal

Credit Suisse juga mengatakan bahwa pihaknya telah meninjau sejumlah besar akun yang berpotensi terkait dengan masalah yang diangkat.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 21 Februari 2022  |  07:41 WIB
Logo Credit Suisse -  Bisnis
Logo Credit Suisse - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Credit Suisse telah memberikan jawaban keras terkait dengan kebocoran data besar-besaran mengungkap kekayaan tersembunyi beberapa klien bank. Bank papan atas tersebut mengungkapkan pihaknya membantah adanya kelalaian internal dalam hal ini. 

Data lebih dari 18.000 rekening bank dengan total simpanan lebih dari US$100 miliar (£73.6 miliar), dibocorkan ke surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung oleh seorang whistleblower.

Data ini termasuk akun pribadi, bersama dan perusahaan, serta yang dibuka sejak tahun 1940-an. Hampir 50 organisasi media telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk meneliti data tersebut.

Penyelidikan media ini menemukan bukti rekening Credit Suisse telah digunakan oleh klien yang terlibat dalam kejahatan serius seperti pencucian uang atau perdagangan narkoba.

Tetapi bank Swiss menolak tuduhan itu dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu (20/2/2020), dengan mengatakan pihaknya sangat menolak tuduhan dan sindiran tentang dugaan praktik bisnis bank atau kurangnya uji tuntas yang dilakukan.

"Hal-hal yang disajikan sebagian besar bersifat historis, dalam beberapa kasus sejak tahun 1940-an, dan laporan tentang hal-hal ini didasarkan pada informasi parsial, tidak akurat, atau selektif yang diambil di luar konteks", katanya.

Dalam laporan yang diterbitkan oleh organisasi media seperti The Guardian dan New York Times, telah diklaim bahwa bank membuka atau mengelola rekening untuk klien berisiko tinggi, termasuk penjahat dan individu yang terlibat dalam perdagangan manusia.

Seperti diketahui, dikutip dari BBC, memegang akun perbankan Swiss tidak ilegal dan kebocoran juga dilaporkan berisi data klien yang tidak melakukan kesalahan.

Data tersebut dibagikan kepada lebih dari 40 organisasi media di seluruh dunia oleh kelompok jurnalisme nirlaba, yakni Proyek Pelaporan Kejahatan dan Korupsi Terorganisir.

Data ini memuat rekening bank sejak beberapa dekade. Mayoritas dibuka dari tahun 2000 dan seterusnya, meskipun data operasi bank saat ini tidak termasuk di dalamnya.

Credit Suisse juga mengatakan bahwa pihaknya telah meninjau sejumlah besar akun yang berpotensi terkait dengan masalah yang diangkat.

"Sekitar 90 persen dari akun yang ditinjau hari ini ditutup atau sedang dalam proses penutupan sebelum menerima pertanyaan pers, di mana lebih dari 60 persen ditutup sebelum 2015," kata Credit Suisse, meskipun tidak mengomentari klien tertentu yang disebutkan.

Bank sangat menyadari tanggung jawabnya kepada klien dan sistem keuangan secara keseluruhan untuk memastikan bahwa standar perilaku tertinggi ditegakkan.

Credit Suisse mengungkapkan tuduhan media ini tampaknya merupakan upaya bersama untuk mendiskreditkan tidak hanya bank tetapi pasar keuangan Swiss secara keseluruhan, yang telah mengalami perubahan signifikan selama beberapa tahun terakhir.

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung, sumber anonim menjelaskan motivasi mereka untuk membocorkan catatan lebih dari setahun yang lalu.

"Saya percaya bahwa undang-undang kerahasiaan perbankan Swiss tidak bermoral. Dalih melindungi privasi finansial hanyalah daun ara yang menutupi peran memalukan bank Swiss sebagai kolaborator penghindar pajak," tulis sumber anonim tersebut, seperti dikutip dari BBC.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

data credit suisse nasabah
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top