Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perjanjian Dagang Digelar RI dengan 20 Negara, Berapa Utilitasnya?

Tingkat pemanfaatan (utilitas) perjanjian perdagangan antara Indonesia dengan 20 mitra dagang telah mencapai 80 persen.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 13 Februari 2022  |  19:47 WIB
Perjanjian Dagang Digelar RI dengan 20 Negara, Berapa Utilitasnya?
Truk melintas di kawasan pelabuhan peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT) di Jakarta, Kamis (19/12/2019). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perdagangan mencatat utilisasi atau tingkat pemanfaatan perjanjian perdagangan antara Indonesia dan mitra dagang telah mencapai 80 persen. Perdagangan dengan 20 mitra dagang utama telah dilakukan di bawah skema perjanjian perdagangan.

Sampai awal Januari 2022, terdapat 23 perjanjian perdagangan yang telah mencapai tahap konklusi maupun diimplementasikan. Beberapa yang masih dalam proses ratifikasi adalah Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kawasan atau RCEP dan Indonesia-Korea CEPA, sementara perjanjian yang telah diimplementasikan di antaranya adalah Indonesia-Chile CEPA, Indonesia-Japan EPA, Indonesia-Pakistan PTA, Indonesia-Australia CEPA, dan Asean+1 FTA yang meliputi kesepakatan dengan China, Korea Selatan, India, Australia, dan Selandia Baru.

"Dari total 20 mitra dagang utama Indonesia, mayoritas sudah memiliki skema preferensi tarif dan rata-rata utilisasinya sudah cukup tinggi. Kurang lebih 80 persen," kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono, Sabtu (12/2/2022).

Ekspor ke 20 destinasi utama sendiri menyumbang 86,13 persen dari total ekspor sepanjang 2020. Mitra dagang terbesar adalah China dengan total perdagangan sebesar US$110,01 miliar pada 2021 di mana ekspor RI mencapai US$53,78 miliar dan impor mencapai US$56,23 miliar.

"Kami perkirakan pemanfaatan perjanjian perdagangan akan meningkat tahun ini. Untuk perjanjian yang baru implementasi seperti Indonesia-EFTA CEPA, pelaku usaha sudah mulai memanfaatkannya," kata Djatmiko.

Koordinator Wakil Ketua Umum III Kadin Indonesia bidang Maritim Investasi dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani mengatakan pemanfaatan perjanjian perdagangan akan sejalan dengan frekuensi sosialisasi dan lama pemberlakuan perjanjian. Dia mencatat perjanjian yang sudah lama berlaku memiliki tingkat utilisasi yang lebih tinggi daripada perjanjian baru.

"Untuk FTA yang sudah lama berlaku seperti ATIGA, Indonesia-Japan EPA, atau Asean+1 tentu tinggi dan bisa lebih dari 80 persen, dibandingkan dengan Indonesia-Australia CEPA, Indonesia-Chile CEPA, maupun Indonesia-EFTA CEPA yang baru diratifikasi 1 sampai 2 tahun terakhir," kata Shinta.

Shinta juga mengatakan pemanfaatan FTA turut didukung oleh FTA Center yang dibentuk beberapa tahun lalu. Dia juga memperkirakan pemanfaatan perjanjian dagang bisa meningkat pada 2022, seiring dengan normalisasi kinerja ekonomi nasional. Namun dia memberi catatan, peningkatan pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas untuk mengerek ekspor memerlukan upaya ekstra selain sosialisasi di kalangan pengusaha.

"Perlu didukung kemudahan prosedur ekspor, perluasan akses pembiayaan ekspor, memastikan beban bunga pembiayaan ekspor dan export insurance terjangkau. Termasuk bantuan bagi UMKM yang ekspor. Kalau tidak FTA hanya akan dipakai untuk impor daripada ekspor," katanya.

Neraca perdagangan dengan sejumlah mitra dagang yang telah menjalin perjanjian dagang dengan Indonesia tercatat mengalami pelebaran defisit. Di antaranya adalah defisit dengan Australia yang bertambah dari -US$2,14 miliar pada 2020 menjadi -US$6,20 miliar pada 2021, seiring dengan implementasi Indonesia-Australia CEPA. Ada pula kenaikan defisit yang dialami Indonesia dengan Singapura dan Thailand, masing-masing dari -US$1,68 miliar menjadi -US$3,81 miliar dan dari -US$1,73 miliar menjadi -US$2,06 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemendag Perjanjian Dagang
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top