Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Produksi CPO Indonesia pada 2022 Diramal Naik, Semester I Jadi Penentu

Meski produksi minyak sawit mentah atau CPO Indonesia pada 2022 diramal mulai naik, tetapi, kinerja produksi masih diwarnai ketidakpastian.
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Bisnis.com, JAKARTA – Produksi minyak sawit mentah atau CPO Indonesia pada 2022 diprediksi mulai naik setelah sempat turun pada 2021. Tetapi, kinerja produksi masih diwarnai ketidakpastian dan sangat ditentukan oleh kondisi pada semester I/2022.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan produksi CPO mencapai 49 juta ton sedangkan minyak kernel sawit atau PKO mencapai 4,8 juta ton sehingga total produksi sebesar 53,8 juta ton. Volume ini lebih tinggi 4,87 persen daripada total produksi 2021 yang berjumlah 51,3 juta ton.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan produksi minyak sawit memperlihatkan anomali pada 2021. Produksi yang umumnya lebih tinggi pada semester II justru mengalami penurunan dibandingkan dengan semester I/2021.

"Oleh sebab itu, produksi semester I/2022 akan menjadi petunjuk apakah penurunan produksi akan terus berlanjut atau akan terjadi kenaikan," kata Mukti dalam siaran pers, Jumat (28/1/2022).

Pemupukan yang terkendala tahun lalu akibat kelangkaan dan kenaikan harga pupuk akan memengaruhi produktivitas dan produksi 2022. Cuaca ekstrem basah yang terjadi awal 2022 tidak hanya berpengaruh ke produksi di semester I/2022, tetapi juga di semester II/2022.

Di tingkat global, pasokan minyak nabati (oilseed) juga masih diwarnai ketidakpastian. Harga minyak nabati pada Desember 2021 lebih tinggi daripada harga pada Desember 2020, tetapi lebih rendah dari harga November 2021.

"Selama Januari 2022, harga minyak nabati cenderung naik kembali. Fluktuasi harga ini disebabkan oleh banyaknya faktor ketidakpastian baik dari segi produksi maupun permintaan minyak nabati," papar Mukti.

Produksi oilseed pada 2022 diperkirakan melimpah meskipun kekeringan di Amerika Selatan masih menjadi faktor yang harus diperhatikan karena bisa menjadi pemicu penurunan produktivitas. Sayangnya, melimpahnya produksi oilseed tidak lantas akan meningkatkan pasokan minyak nabati.

Mukti mengatakan harga oilmeal yang kurang menarik akan menjadi salah satu faktor yang menghambat normalisasi pasokan, di samping untuk pemulihan stok oilseed yang terkuras pada 2021. Mukti menjelaskan volume produk minyak sawit yang diekspor Indonesia juga berpotensi turun pada 2022, imbas dari kenaikan konsumsi domestik.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper