Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Antisipasi Rupiah Melemah, Pengusaha Pilih Naikan Harga Produk

Penyesuaian harga di tingkat konsumen menjadi opsi yang paling mungkin dilakukan untuk mengimbangi kenaikan harga bahan baku dan penolong impor.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 26 Januari 2022  |  21:15 WIB
Ilustrasi - Nasabah melakukan pembayaran menggunakan metode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) Nobu Bank saat berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.  - Bisnis/Arief Hermawan P
Ilustrasi - Nasabah melakukan pembayaran menggunakan metode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) Nobu Bank saat berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. - Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Risiko pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat imbas dari kenaikan suku bunga tak lantas membuat pelaku usaha mengurangi impor. Penyesuaian harga di tingkat konsumen menjadi opsi yang paling mungkin dilakukan untuk mengimbangi kenaikan harga bahan baku dan penolong impor.

"Volume impor turun tidak juga karena transaksi sudah diawali dengan kontrak. Hanya saja bisa berdampak pada harga jual jika biaya produksi sudah di atas batas perhitungan usaha," kata Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Subandi, Rabu (26/1/2022).

Subandi mengatakan pelaku usaha tidak memiliki kiat khusus menghadapi tantangan tersebut mengingat fluktuasi nilai tukar rupiah merupakan hal yang lumrah. Dia hanya berharap kebijakan pemerintah bisa meminimalisir dampak negatif yang mungkin muncul.

"Kalau impor bahan baku/penolong untuk kepentingan ekspor juga sama saja karena kami menerima pembayaran dalam bentuk dolar. Tinggal bagaimana kebijakan pemerintah demi menjaga impor produktif tetap terakomodasi," katanya.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet mengatakan kebijakan agresif yang berpotensi diambil The Fed tak lantas akan berpengaruh pada produktivitas industri nasional. Dia mengatakan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter tertinggi Indonesia akan melihat seberapa jauh pelemahan nilai tukar rupiah.

Rendy meyakini BI tidak akan membiarkan nilai tukar tertekan dalam. Otoritas moneter akan mengambil langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar di level yang akomodatif dengan beragam rangkaian kebijakan, mulai dari suku bunga acuan hingga intervensi market valuta asing jika memang diperlukan.

"Apalagi tahun lalu cadangan devisa mengalami peningkatkan dan saya kira cukup mampu untuk mendorong BI untuk melakukan intervensi jika memang diperlukan," katanya.

Dia juga mengemukakan bahwa sebelumnya BI telah menjalin kerja sama penandatanganan transaksi bilateral dengan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) dengan implementasi yang mulai berlaku antara Indonesia dan China.

"Perluasan penggunaan LCS diharapkan dapat mendukung stabilitas rupiah melalui dampaknya terhadap pengurangan ketergantungan pada mata uang tertentu di pasar valuta asing domestik," kata Rendy.

Dia juga berpendapat tekanan pada impor masih bisa diimbangi dengan kinerja impor nasional, meski ekspor diproyeksi tidak tumbuh setinggi 2021 karena normalisasi harga komoditas dan pertumbuhan ekonomi yang lebih moderat di destinasi utama. Menurut Rendy, peran ekspor manufaktur akan memainkan peran penting dalam menjaga kinerja perdagangan luar negeri.

"Ekspor produk manufaktur yang mengalami pertumbuhan yang cukup signfikan tahun lalu. Saya kira jika tren pertumbuhan ekspor produk manufaktur bisa dipertahankan tahun ini, maka risiko tekanan impor bisa diminimalisir." 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor Rupiah
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top