Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Transasia Minerals Lanjutkan Pengembangan Fasilitas Pengolahan Nikel di Morowali

Transasia Minerals Ltd. memastikan komitmennya untuk melanjutkan pengembangan fasilitas pengolahan nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, bersama Artha Bumi Mining Group.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 19 Januari 2022  |  15:04 WIB
Ilustrasi. - Istimewa
Ilustrasi. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Transasia Minerals Ltd. memastikan komitmennya untuk melanjutkan pengembangan fasilitas pengolahan nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, bersama Artha Bumi Mining Group.

Hal itu dilakukan setelah muncul putusan Mahkamah Agung Nomor 122/PK/TUN/2021 pada 10 November 2021 yang mengembalikan Izin Usaha Pertambangan (IUP) bijih nikel Artha Bumi Mining Group.

Investasi fasilitas pengolahan nikel menjadi feronikel dan nikel sulfat yang digunakan untuk memproduksi baterai kendaraan elektrik itu sendiri diperkirakan akan menelan investasi hingga US$2 miliar.

Pavel Erokhin, CFO Transasia Minerals Ltd, mengatakan pihaknya sangat senang bisa menjalankan kerja sama pengembangan fasilitas pengolahan nikel di Indonesia.

“Investasi dalam proyek ini merupakan bukti komitmen kami untuk menempatkan industri nikel ke dalam platform global, dan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekspor nikel sulfat,” katanya melalui keterangan resmi, Rabu (19/1/2022).

Dia menjelaskan, nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) proyek tersebut pertama kali dilaksanakan pada 2016 di Sochi, Rusia, saat pertemuan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela KTT Asean-Rusia.

Sementara itu, Juru Bicara Artha Bumi Mining Group Maman Khairussalam mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik kelanjutan pembangunan fasilitas pengolahan nikel yang menggunakan bahan baku dari deposit bijih nikel perusahaan yang dipulihkan.

“Manfaat fasilitas pengolahan nikel tidak hanya akan meningkatkan lapangan kerja di Morowali, tetapi juga semakin memantapkan Indonesia sebagai pusat ekspor nikel sulfat, yang pada akhirnya meningkatkan perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Berdasarkan penelitian dari Fitch Solutions, ada peluang yang luar biasa untuk produksi nikel secara global, dengan perkiraan tingkat pertumbuhan 4 persen secara tahunan hingga 2030.

Indonesia sendiri diperkirakan akan memimpin pertumbuhan itu, dengan produksi 1,13 juta ton nikel pada 2025, dan tumbuh menjadi 1,29 juta ton di 2030, dengan lokasi produksi utama di Sulawesi dan Maluku.

Unsur logam alami, nikel sulfat sebagian besar digunakan untuk memproduksi barang-barang, seperti baja tahan karat atau baterai EV. Permintaan nikel juga telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir berkat meningkatnya kebutuhan baterai kendaraan listrik.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Nikel Smelter Nikel
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top