Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasokan Surat Utang Pemerintah Global Banjiri Pasaran

Suplai obligasi mulai terlihat naik di zona euro, Inggris, Australia, dan Kanada. Sementara itu, Jepang justru akan mengalami penurunan pasokan obligasi setelah bank sentral berupaya menekan imbal hasil.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 12 Januari 2022  |  18:16 WIB
Logo bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg - Samuel Corum
Logo bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Minggu (19/12/2021). Bloomberg - Samuel Corum

Bisnis.com, JAKARTA - Jumlah surat utang pemerintah di berbagai kawasan diprediksi membengkak pada 2022. Hal ini mendorong yield obligasi ke level lebih tinggi karena minat investor dari berbagai pasar utama meningkat.

Pemerintah bersiap untuk mengurangi pinjaman seiring dengan penurunan belanja fiskal. Penurunan US$2 triliun pada permintaan bersih bank sentral AS akan memberikan ujian bagi permintaan swasta.

Dengan panasnya inflasi yang akhirnya mendorong pejabat bank sentral memperketat kebijakan moneter, investor perlu menyerap pasokan sekitar US$230 miliar.

"Jin inflasi mungkin akan keluar dari botol. Dan jika itu terjadi, pasokan obligasi ekstra akan menjadi bagian dari lingkaran setan yang membuat imbal hasil naik," kata konsultan investasi GSFM, sebuah unit dari CI Financial Corp Kanada, Stephen Miller, seperti dikutip Bloomberg pada Selasa (11/1/2022).

Hal ini disebabkan tekanan harga akan memaksa bank sentral terus memangkas pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE).

Dalam hal ini, Amerika Serikat akan mengalami penurunan suplai obligasi terbesar kepada swasta. Namun, kesiapan The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan dan mengurangi kepemilikan utang tidak akan menenangkan investor yang sedang bergulat dengan obligasi.

Bloomberg Intelligence memperkirakan The Fed akan beralih dari pembelian Treasury senilai US$960 miliar pada 2021 menjadi sekitar US$60 miliar dan kemudian menurunkan neracanya sekitar US$300 miliar atau lebih mulai Juli.

Prediksi ini berdasarkan analisis dari Bloomberg Intelligence dan Bloomberg Economics, referensi silang dengan penerbitan historis dan angka QE dan panduan bank sentral pada rencana 2022.

Kepala Ahli Strategi Suku Bunga Bloomberg Intelligence Ira F. Jersey mengatakan seiring dengan pemangkasan neraca keuangan, keputusan The Fed dapat menyebabkan Kementerian Keuangan mengeluarkan lebih dari US$250 miliar daripada jika bank sentral menjaga neracanya tetap stabil, yang semuanya harus diserap oleh sektor swasta pada 2022.

"Yang menjadi perhatian pasar adalah The Fed mengatakan akan melepas sejumlah kepemilikannya. Bisa dibilang pasar mungkin perlu menyerap pasokan ini lebih awal dari yang mereka perkirakan," kata Prashant Newnaha, Ahli Strategi tingkat Asia-Pasifik TD Securities di Singapura.

Suplai obligasi mulai terlihat naik di zona euro, Inggris, Australia, dan Kanada. Sementara itu, Jepang justru akan mengalami penurunan pasokan obligasi setelah bank sentral berupaya menekan imbal hasil.

Zona euro kemungkinan akan mengalami kenaikan pasokan hingga 100 miliar euro atau setara US$114 miliar, salah satunya karena European Central Bank (ECB) secara bertahap memangkas pembelian obligasi, menurut Huw Worthington dari Bloomberg Intelligence.

Adapun, Prancis, Italia, dan Spanyol semuanya harus bergantung pada pembelian obligasi yang cukup besar oleh investor. Itu bisa memberi tekanan ekstra pada pasar tersebut relatif terhadap Jerman, di mana pasokan bersih diperkirakan akan menyusut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Inflasi the fed
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top