Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

G20 Diproyeksikan Berdampak Positif bagi Hotel di Bali

Pada tahun 2020 dan 2021 tingkat hunian hotel di Bali cenderung menunjukkan grafik yang flat.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 06 Januari 2022  |  03:16 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) didampingi Komandan Lanud I Gusti Ngurah Rai Kolonel Pnb Reza R.R. Sastranegara (kiri) meninjau fasilitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Badung, Bali, Selasa (28/12/2021). Menteri BUMN meninjau kesiapan Bandara I Gusti Ngurah Rai dalam menyambut penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali. - Antara/Fikri Yusuf.
Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) didampingi Komandan Lanud I Gusti Ngurah Rai Kolonel Pnb Reza R.R. Sastranegara (kiri) meninjau fasilitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Badung, Bali, Selasa (28/12/2021). Menteri BUMN meninjau kesiapan Bandara I Gusti Ngurah Rai dalam menyambut penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali. - Antara/Fikri Yusuf.

Bisnis.com, JAKARTA - Presidensi G20 yang digelar di Indonesia pada Oktober tahun ini akan memberikan angin segar bagi sektor perhotelan untuk pulih kembali.

Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan presidensi G20 ini akan berdampak pada perhotelan di Bali karena menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi.

Pada tahun 2020 dan 2021 tingkat hunian hotel di Bali cenderung menunjukkan grafik yang flat. Tingkat okupansinya masih di bawah 60 persen jika dibandingkan tahun 2019 sebelum adanya pandemi Covid-19.

Kendati demikian, kondisi Bali saat ini sudah mulai membaik meski masih wisatawan domestik yang mendominasi kunjungan ke Bali itu.

"Proyeksi hotel Bali untuk tahun 2022 akan mulai membaik, karena di akan menjadi tuan rumah G20, jadi ini harapan kita okupansi akan lebih membaik jika dibandingkan tahun lalu," ujarnya dalam media briefing virtual, Rabu (5/1/2022).

Ferry menuturkan salah satu penyebab rendahnya tingkat okupnasi hotel terutama yang berada di Bali juga adanya kebijakan karantina beberapa hari sebelum berlibur.

"Kalau kita lihat juga, pada bulan Oktober dibuka pintu masuk untuk internasional, tapi sejauh ini dampaknya masih minim," katanya.

Pada Oktober tahun 2021, Colliers mencatat okupansi di hotel khususnya yang berada di Bali memang mengalami peningkatan sekitar 20 persen jika dibandingkan 2020 yang berada di bawah angka tersebut.

"Yang menjadi masalah adalah begitu wisatawan asing masuk, harus melakukan karantina beberapa hari, dan ini yang membuat tamu-tamu mancanegara itu masih enggan datang ke Bali sehingga Bali masih didominasi oleh turis domestik," tuturnya.

Ferry menambahkan dengan level PPKM yang diturunkan saat ini juga akan mendorong aktivitas di hotel kembali menggeliat untuk melakukan kegiatan di hotel.

"Pemerintah beberapa kali menyelenggarakan kegiatan MICE di Bali dan menggelar beberapa kali penyelenggaraan acara untuk membangkitkan pariwisata di Bali," ucapnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali perhotelan g20
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top