Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menperin Revisi ke Bawah Target Pertumbuhan Manufaktur 2022

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan pada tahun ini sekitar 4–4,5 persen, turun dari yang sebelumnya 4,5–5 persen.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 29 Desember 2021  |  16:37 WIB
Pekerja mengecek lembaran baja di pabrik Sunrise Steel, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (18/2).  - Antara Foto/Zabur Karuru
Pekerja mengecek lembaran baja di pabrik Sunrise Steel, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (18/2). - Antara Foto/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan industri manufaktur tumbuh 4,5 persen hingga 5 persen pada 2022. Angka itu turun tipis dari target yang dipatok Oktober sebesar 5–5,5 persen.

Agus mengatakan perubahan pada target pertumbuhan industri mempertimbangkan faktor pandemi Covid-19 yang belum reda sepenuhnya. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan pada tahun ini sekitar 4–4,5 persen, turun dari yang sebelumnya 4,5–5 persen.

"Ini tidak terlalu banyak berubah dari waktu ke waktu, karena melihat berbagai dinamika yang kita hadapi dan sebagian besar terkait dengan masih adanya Covid-19 di Indonesia," kata Agus dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (29/12/2021).

Dia menggarisbawahi industri manufaktur dapat tumbuh lebih tinggi dari target pada tahun depan seiring majunya perkembangan dan temuan obat terkait Covid-19. Dengan akses yang semakin mudah terhadap obat dan perawatan Covid-19, pengaruh pandemi terhadap kegiatan ekonomi dan industri manufaktur akan semakin mengecil.

Sementara itu nilai ekspor industri manufaktur ditaksir mencapai US$170 miliar hingga US$175 miliar pada 2021, dan meningkat menjadi US$175 miliar hingga US$180 miliar pada 2022. Adapun, nilai investasi dipatok dapat menembus Rp280 triliun pada tahun ini dan meningkat menjadi Rp300 triliun hingga Rp310 triliun pada 2022.

Sejumlah tantangan yang dinilai menahan kinerja industri antara lain rantai pasok dengan kelangkaan kontainer dan mahalnya harga pengapalan, ketergantungan terhadap impor bahan baku, serta sejumlah subsektor industri yang masih mengalami kontraksi pada 2021.

Kondisi harga energi seperti batu bara dan gas bumi yang mengalami kenaikan signifikan juga sangat berpengaruh terhadap biaya produksi di industri yang lahap energi.

"Dan juga perlu diupayakan mitigasi terhadap kemungkinan-kemungkinan munculnya varian baru Covid-19," kata Agus. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur kementerian perindustrian
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top