Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Pendorong Utama Konsumsi Baja Nasional Menurut Kemenperin

Kementerian Perindustrian mencatat sektor infrastruktur, otomotif, dan konstruksi sebagai pendorong utama pertumbuhan konsumsi baja nasional.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 19 Desember 2021  |  12:27 WIB
Ilustrasi industri baja - Bisnis.com
Ilustrasi industri baja - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perindustrian mencatat sektor infrastruktur, otomotif, dan konstruksi sebagai pendorong utama pertumbuhan konsumsi baja nasional.

Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian Budi Susanto mengatakan bahwa pada RAPBN 2022 pemerintah mengajukan alokasi anggaran infrastruktur sebesar Rp384,8 triliun, atau 14,2 persen dari total belanja pemerintah.

Hal itu menunjukkan bahwa pada tahun depan pemerintah akan melanjutkan pembangunan infrastrukturnya. Sektor otomotif yang tumbuh 27,84 persen pada kuartal III/2021 juga dinilai berkontribusi pada pertumbuhan konsumsi baja.

“Sehingga itu merupakan potensi untuk peningkatan konsumsi baja dalam negeri,” kata Budi kepada Bisnis, Jumat (17/12/2021).

Sebelumnya, Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) mencatat, pertumbuhan konsumsi baja nasional 36 persen pada semester I/2021 menjadi 6,7 juta ton dari 4,9 juta ton.

Adapun, konsumsi baja nasional pada 2022 diproyeksi 16,3 juta ton, atau tumbuh 7–8 persen dari angka tahun ini.

Budi juga mencatat, kebutuhan konstruksi untuk investasi baru di sektor swasta. Hal itu didukung oleh pertumbuhan investasi yang secara year-on-year tercatat sebesar 7,8 persen pada kuartal III/2021.

Selain itu, konstruksi perumahan juga mencatatkan pertumbuhan 3,42 persen pada kuartal ketiga tahun ini, sehingga mengerek kebutuhan baja sebagai salah satu material bangunan.

“Peningkatan nilai investasi ini tentunya juga diikuti oleh peningkatan konstruksi, sehingga dapat menjadi salah satu pendorong konsumsi baja dalam negeri,” lanjutnya.

Budi berharap, kinerja sejumlah sektor tersebut dapat tetap terjaga, sehingga konsumsi baja dapat ikut terkerek pada tahun depan.

Kemenperin sebelumnya memproyeksikan produksi baja nasional pada tahun ini akan berada di kisaran 12,27 juta ton, tumbuh 6,05 persen dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 11,57 juta ton. Dalam jangka menengah, target produksi baja diproyeksikan mencapai 17 juta ton pada 2024.

Adapun, proyeksi produksi baja 2021 merupakan gabungan kapasitas sejumlah pabrikan, antara lain PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. 2,5 juta ton per tahun, PT Krakatau Posco 3 juta ton per tahun, dan PT Gunung Raja Paksi Tbk. 1,7 juta ton per tahun.

Ada pula PT Dexin Steel Indonesia 1,5 juta ton per tahun, serta gabungan dari beberapa produsen billet sebesar 4 juta ton per tahun.

Sementara itu, berdasarkan data South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI), permintaan baja di Indonesia pada 2021 dan 2022 diperkirakan akan tumbuh 6 persen menjadi masing-masing 16 juta ton dan 17 juta ton.

Adapun, peluang pertumbuhan terbuka lebar dengan proyeksi pertumbuhan baja nasional yang mencapai 27 juta ton per tahun. Sayangnya, rata-rata utilisasi industri saat ini masih di kisaran 52 persen akibat tekanan produk impor.

Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim sebelumnya menargetkan utilisasi industri dapat mencapai 80 persen pada tahun depan. Angka itu mencerminkan good utilization, seperti industri baja di negara-negara maju.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri baja kemenperin
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top