Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PLTU Juga Bisa Berkontribusi Terhadap Bauran EBT, Kok Bisa?

PT PLN (Persero) menargetkan 10–20 persen kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) akan diganti menjadi biomassa seiring dengan upaya meningkatkan bauran energi terbarukan.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 14 Desember 2021  |  19:54 WIB
PLTU Juga Bisa Berkontribusi Terhadap Bauran EBT, Kok Bisa?
Pemandangan PLTU Paiton 1 dan 2 dari sisi perairan utara Probolinggo. - Istimewa/PLN
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – PT PLN (Persero) menargetkan 10–20 persen kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) akan diganti menjadi biomassa seiring dengan upaya meningkatkan bauran energi terbarukan.

Electricity System Planning Division PT PLN (Persero) Edwin Nugraha mengatakan bahwa usaha itu akan memberikan kontribusi peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 3–6 persen.

“Itu salah satu usaha kami terkait batu bara di 5–10 tahun ke depan,” katanya saat webinar, Selasa (14/12/2021).

Dia menerangkan bahwa konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik akan terus mengalami kenaikan dalam 9 tahun ke depan. PLN memproyeksikan kebutuhan komoditas emas hitam akan mencapai 153 juta ton pada 2030.

Peningkatan permintaan itu turut dikontribusikan dari pengembangan pembangkit listrik 35 GW dan fast track program (FTP) 2 sebesar 7 GW. Dalam RUPTL PLN 2021–2030, pengembangan PLTU akan berkontribusi 34 persen atau 13,8 GW dari total 40,9 GW pada 2030.

Kontribusi tersebut salah satunya dari program 35 GW yang masih berjalan. Kendati begitu, Edwin menegaskan bahwa tidak ada lagi penambahan PLTU, kecuali telah melakukan tahapan konstruksi dan mendapatkan izin.

“Tapi dalam RUPTL memang tidak lagi memperkenalkan pembangkit [PLTU] baru sejak 2026,” terangnya.

Secara persentase, PLTU masih mendominasi sumber energi nasional. Bahkan pada 2030, pembangkit fosil tersebut masih cukup besar, yakni sekitar 60 persen dari total sumber energi di dalam negeri.

Di sisi lain, Edwin menuturkan bahwa pengembangan pembangkit energi terbarukan cukup sulit di tengah kondisi oversupply listrik. Upaya transisi energi dengan kondisi kelebihan kapasitas listrik saat ini harus menjadi perhatian pemerintah.

Dukungan eksekutif dan pihak swasta disebut perlu untuk memastikan dampak kebijakan itu tetap memberi efek positif bagi publik. Terlebih, pemerintah mematok bauran EBT mencapai 23 persen pada 2025, sedangkan saat ini porsi bauran energi hijau baru 11 persen.

“Ini sangat berat dalam kondisi oversupply seperti sekarang ini,” terangnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN energi baru terbarukan pltu
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top