Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Eksplorasi Batu Bara Kian Dioptimalkan Mulai Tahun Depan

Batu bara mencatatkan masa terbaik sepanjang sejarah selama 2021. Kondisi ini berbanding terbalik dengan meredupnya komoditas ini pada 2020.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 12 Desember 2021  |  14:43 WIB
Proses mobilisasi batu bara dari ketinggian 15 meter - 20 meter di Anjungan Tambang Air Laya yang disediakan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA)  -  Tim Jelajah Komoditas Bisnis Indonesia
Proses mobilisasi batu bara dari ketinggian 15 meter - 20 meter di Anjungan Tambang Air Laya yang disediakan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) - Tim Jelajah Komoditas Bisnis Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan pertambangan batu bara diyakini kian mengoptimalkan eksplorasi komoditas tersebut meski di tengah upaya transisi energi. 

Batu bara mencatatkan masa terbaik sepanjang sejarah selama 2021. Kondisi ini berbanding terbalik dengan meredupnya komoditas ini pada 2020. Memanasnya emas hitam tahun ini turut ditopang meningginya harga minyak dan gas bumi.

Situasi itu turut mengerek harga batu bara karena peningkatan permintaan. Bahkan, bursa ICE Newcastle mencatat nilai komoditas ini sempat melonjak hingga US$272,5 per metrik ton pada 5 Oktober 2021. Kenaikan ini disebabkan sejumlah negara di Eropa kembali menggunakan bara sebagai bahan bakar energi. 

Peralihan penggunaan bahan bakar tersebut akibat melonjaknya minyak dan gas di seluruh penjuru dunia di luar batas wajar. Beberapa negara bahkan mengoperasikan kembali pembangkit listrik tenaga uap untuk menyediakan energi dalam negeri. 

Di sisi lain, Indonesia telah menyatakan komitmennya melakukan transisi energi. Pemerintah juga membidik capaian netral karbon atau net zero emission pada 2060. Meski begitu, eksplorasi pertambangan diyakini akan semakin masif pada tahun depan. 

Pelaksana Harian Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Djoko Widajatno memproyeksikan bahwa eksplorasi batu bara akan terus dilakukan pada 2022 meski di tengah upaya pemerintah melakukan transisi energi. 

“Kalau dilihat ekplorasi batu bara [akan tetap] dilanjutkan adalah dalam rangka optimalisasi penggunaan batu bara,” katanya kepada Bisnis, Minggu (12/12/2021). 

Menurutnya, proyeksi ini berkaca dari peningkatan penggunaan pembangkit batu bara baik di Jepang, Inggris dan Korea. Beberapa negara juga disebut mulai menggantikan pembangkit listrik tenaga nuklir kepada batu bara. 

Kebijakan ini diambil seiring dengan dampak limbah nuklir atau nuclear waste yang berbahaya, tetapi tidak terlihat. Contohnya bencana nuklir di Fukushima Daiichi Jepang pada 11 Maret 2011 dan bencana pembangkit nuklir Chernobyl di Ukraina pada 26 April 1986.

“Sehingga batu bara kembali menjadi penggerak energi di dunia sampai energi baru dan terbarukan dapat menggantikan ketersediaan energi di tahun 2060,” terangnya. 

Setali tiga uang, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan optimalisasi cadangan batu bara yang ada terus dilakukan perusahaan tambang. Langkah tersebut sekaligus memanfaatkan kenaikan harga batu bara di pasar global.

“Perusahaan batu bara saat ini terus memaksimalkan potensi yang ada. Karena harga tidak selamanya naik, tidak selamanya bagus terus. Yang kecil-kecil belum tentu [memiliki cadangan banyak]. Mungkin cuma lima tahun sampai 2025, 2030. Jadi mereka tidak melihat [penurunan permintaan ke depan]. Yang penting memaksimalkan yang sekarang,” ujarnya.

Asosiasi optimistis permintaan terhadap batu bara akan terus meningkat di tahun mendatang termasuk dari Asia Pasifik. Sekitar 98 persen dari total ekspor batu bara Indonesia disalurkan ke kawasan ini. Dua negara utama pengimpor komoditas ini dari RI adalah China dan India sekitar 63 persen. 

Keyakinan ini, kata Hendra, seiring dengan potensi perkembangan industri mulai tahun depan. Kondisi tersebut secara otomatis meningkatkan kebutuhan listrik dan batu bara sebagai salah satu bahan bakarnya. 

“Rasanya kalau melihat kebijakan mereka [China dan India], [batu bara] kita masih punya kesempatan 3 - 4 dekade ke depan,” terangnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara Krisis Energi Transisi energi
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top