Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Penerbangan Tetap Optimistis Hadapi Risiko Omicron

Kemunculan varian omicron memicu putaran baru pembatasan perjalanan di seluruh dunia.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 09 Desember 2021  |  08:14 WIB
Ilustrasi Covid-19 varian Omicron - DW.com
Ilustrasi Covid-19 varian Omicron - DW.com

Bisnis.com, JAKARTA - Penerbangan di Amerika Serikat menunjukkan permintaan yang tinggi hingga mendekati level pra pandemi. Sejumlah maskapai di negara lainnya juga terus melanjutkan pembelian unit pesawat baru, menghadapi ancaman kemunculan omicron.

Dilansir Bloomberg pada Rabu (8/12/2021), pelancong dari Amerika harus siap melihat kondisi bandara yang ramai menjelang liburan akhir tahun, layaknya era sebelum Covid-19.

"Kami melihat penguatan dalam industri perjalanan penerbangan menuju tingkat pra-pandemi," kata Kepala Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) David Pekoske dalam sebuah pernyataan.

Badan tersebut melihat adanya sekitar 21 juta pelaku perjalanan selama 10 hari periode liburan Thanksgiving pada November. Adapun pada akhir tahun diperkirakan akan semakin tinggi.

Berdasarkan data yang dirilis oleh TSA, terdapat total sebanyak 1,85 juta penumpang melakukan perjalanan udara pada Senin (6/12/2021), lebih tinggi dua kali lipat dari tahun lalu saat vaksinasi Covid-19 tengah digalakkan.

Sementara itu, kemunculan varian omicron memicu putaran baru pembatasan perjalanan di seluruh dunia, termasuk di AS. Analis MKM Partners Conor Cunningham menulis bahwa situs pencarian penerbangan harian Kayak menunjukkan tren pencarian domestik bertahan sejauh ini.

Sejumlah maskapai juga terus melanjutkan pesanan pesawat baru meskipun industri ini dihadapkan dengan ancaman kemunculan varian virus corona baru yang telah memicu penutupan perbatasan negara-negara.

"Aktivitas kampanye setinggi yang pernah saya lihat, mungkin pernah," ujar Chief Commercial Officer Pratt & Whitney, produsen kedirgantaraan Amerika, Rick Deurloo.

Airbus SE dan Boeing Co. saat ini juga sedang bersaing dalam penjualan seiring dengan antrean pesanan dari berbagai maskapai. Salah satunya adalah Air France-KLM memesan sebanyak 80 jet baru. Qantas Airways Ltd., juga sedang mempertimbangkan produsen dari Eropa dan Amerika itu untuk memenuhi kebutuhan yang besar pada tahun ini.

Kendati demikian, proses ini masih berlangsung. Adapun menurut juru bicara, Qantas sudah dalam tahap finalisasi dalam memilih pesawat untuk menggantikan armada domestik Boeing 737.

Maskapai Australia tersebut sempat menunda pesanan tahun lalu setelah pandemi menangguhkan perjalanan global. Namun, saat ini perusahaan sedang merombak armada mereka dengan pesawat yang lebih hemat bahan bakar.

Operator penerbangan juga berada di bawah tekanan untuk mengurangi emisi karbon karena industri berusaha untuk mencapai netralitas karbon pada 2050.

Menurut Deurloo, rencana perusahaan untuk membeli pesawat tidak akan terhalang oleh varian virus corona omicron.

"[Airbus] mencatatkan kesuksesan pada platform Neo sehingga maskapai-maskapai ini tidak ingin terlewat dari jadwal produksi Airbus. Maka saya tidak melihat [pemesanan pesawat] melambat," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

maskapai penerbangan omicron

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top