Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Manufaktur China Kembali Pulih pada November

Indeks manajer pembelian manufaktur resmi China naik menjadi 50,1, setelah terus di bawah angka 50 selama 3 bulan terakhir.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 30 November 2021  |  16:21 WIB
Manufaktur China - Reuters
Manufaktur China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Industri di China mulai mencatatkan perbaikan pada November setelah ketersediaan listrik menghidupkan kembali mesin pabrik dan kenaikan harga mulai mereda. Hal ini membantu menopang ekonomi yang dilanda kemerosotan sektor properti.

Dilansir Bloomberg pada Selasa (30/11/2021), indeks manajer pembelian manufaktur resmi China naik menjadi 50,1, setelah terus di bawah angka 50 selama 3 bulan terakhir.

Sementara itu, indeks non-manufaktur yang mengukur aktivitas di sektor konstruksi dan jasa turun tipis menjadi 52,3. Kedua capaian tersebut mengalahkan ekspektasi para ekonom.

Sektor jasa melambat, sementara konstruksi tumbuh pada November, menjadi sinyal yang biasa terjadi di mana bulan ini memiliki hari kerja yang lebih banyak daripada Oktober.

Kelangkaan energi yang sempat menonaktifkan mesin industri selama September dan Oktober juga mereda karena produsen batubara meningkatkan produksi dan persediaan sudah meningkat.

Ekonom NatWest Group Plc., Liu Peiqian mengatakan proyeksi manufaktur China tetap stabil seiring China mempertahankan keunggulannya di rantai pasok manufaktur global di tengah gangguan dan kelangkaan.

"Bagaimanapun, kecepatan pertumbuhan akan normal dalam beberapa kuartal ke depan seiring dengan prospek permintaan melunak," ungkap Liu seperti dilansir Bloomberg pada Selasa (30/11/2021).

Ahli statitik Biro Statistik Nasional Zhao Qinghe mengatakan langkah yang dilakukan pemerintah untuk memperkuat pasokan energi dan menstabilkan harga telah membuahkan hasil.

Harga input manufaktur tercatat turun tajam menjadi 52,9 dari 72,1, sementara harga output jatuh ke 48,9 dari 61,1.

Kendati kenaikan terjadi di hampir seluruh PMI, data juga menyoroti masih lemahnya permintaan dari dalam dan luar negeri.

Indeks untuk ekspor baru naik 48,5, masih terkontraksi selama 7 bulan. Pesanan baru hanya naik tipis dari 48,8 menjadi 49,4.

Lebih dari sepertiga perusahaan yang disurvei mengatakan permintaan yang sepi masih menjadi tantangan terbesar. Hal ini mengindikasikan tekanan ke bawah ekonomi masih sangat terasa, kata Zhang Liqun, peneliti Pusat Penelitian Pengembangan Dewan Negara.

Menurutnya, prioritas saat ini adalah memperbesar permintaan domestik dengan memainkan peranan yang lebih besar pada investasi pemerintah sehingga mengerek investasi korporasi, lapangan pekerjaan, dan konsumsi rumah tangga.

"Tekanan ke bawah pada ekonomi tetap kuat, dan munculnya varian omicron menambah ketidakpastian ekonomi global," kata Kepala Ekonom Asia Bloomberg Chang Su.

Kendati demikian, krisis pasar perumahan dan penyebaran Covid-19 yang meningkat pada tahun ini bakal membayangi prospek pada 2022.

Hal ini diikuti dengan proyeksi dari ekonom China yang mengatakan pertumbuhan akan melambat hingga di bawah 5 persen pada tahun depan. Tambahan dukungan fiskal dan moneter kemungkinan akan menyusul.

Kepala Ekonom Australia and New Zealand Banking Group Ltd., Raymond Yeung mengatakan survei PMI menunjukkan kenaikan sektor konstruksi menjadi 59,1 dari 56,9. Artinya, aktivitas pembangunan kembali berjalan setelah adanya relaksasi di sektor properti.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur china
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top