Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Soal Biodiesel, Pemerintah Mesti Selesaikan Perkara Harga FAME

Penanganan berlarut-larut akan menyebabkan harga biodiesel menjadi kalah ekonomis dibandingkan dengan solar murni.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 17 November 2021  |  16:15 WIB
Petugas mengisi bahan bakar B30 ke kendaraan saat peluncuran uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di halaman Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6/2019). Uji jalan kendaraan berbahan bakar campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar atau B30 dengan menempuh jarak 40.000 dan 50.000 kilometer tersebut bertujuan untuk mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar itu tidak akan meyebabkan performa dan akselerasi kendaraan turun. - Antara / Aprillio Akb
Petugas mengisi bahan bakar B30 ke kendaraan saat peluncuran uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di halaman Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6/2019). Uji jalan kendaraan berbahan bakar campuran biodiesel 30 persen pada bahan bakar solar atau B30 dengan menempuh jarak 40.000 dan 50.000 kilometer tersebut bertujuan untuk mempromosikan kepada masyarakat bahwa penggunaan bahan bakar itu tidak akan meyebabkan performa dan akselerasi kendaraan turun. - Antara / Aprillio Akb

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah dinilai perlu menyelesaikan kendala harga bahan bakar solar campuran fatty acid methyl ether (FAME) biodiesel untuk mengembangkan bahan bakar nabati tersebut hingga B100. 

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan bahwa selama ini penyerapan biodiesel telah berjalan cukup optimal. Kalangan industri termasuk transportasi juga telah mulai menggunakan bahan bakar nabati tersebut.

Kendati demikian, harga FAME masih terbilang tinggi sehingga pengembangan dapat menghambat pengembangan biodiesel. Apalagi biodiesel menjadi salah satu bahan bakar dalam kelompok energi baru dan terbarukan (EBT). 

“Apalagi kita punya program B100. Agar program FAME ini bisa diatur tata niaganya lah sehingga tidak terlalu memberatkan produsen seperti Pertamina dalam membuat biodiesel,” katanya kepada Bisnis, Rabu (17/11/2021). 

Menurutnya, penanganan berlarut-larut ini akan menyebabkan harga biodiesel menjadi kalah ekonomis dibandingkan dengan solar murni. Pengaturan harga ini diperlukan untuk memberi kepastian pada pengembangan B40 - B100. 

“Ada beban sendiri yang harus ditanggung, apakah akan ditanggung badan usaha dalam hal ini Pertamina atau menjadi tanggungan kementerian atau APBN kita. Itu yang saya khawatirkan,” terangnya.

Penetapan harga tersebut diberikan lantaran pemerintah untuk menjamin keberlanjutan industri yang membutuhkan komoditas tersebut. Mamit menyebut, penetapan harga FAME juga perlu dilakukan seperti komoditas batu bara. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memaparkan penyerapan bahan bakar nabati atau biofuel hingga akhir tahun ini diperkirakan melebihi target 9,2 juta kiloliter. 

Kondisi ini diakibatkan meningkatnya mobilitas masyarakat seiring dengan pemulihan ekonomi sejak beberapa bulan terakhir. Berdasarkan rencana umum energi nasional (RUEN), kapasitas BBN akan ditingkatkan menjadi 10 juta kiloliter pada 2022. 

"Biodiesel ini diproduksi dari proses-proses yang berkelanjutan juga. Sudah jelas kalau biodiesel masuk dalam energi terbarukan. Tapi prosesnya pun harus bisa ditunjukan kepada publik bahwa ini proses yang berkelanjutan," kata Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Dadan Kusdiana saat webinar, Selasa (16/11/2021). 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

solar ebt Biodiesel
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top