Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dahsyat! Program B30 Diproyeksi Hemat Devisa Negara hingga Rp56 Triliun Tahun Ini

Airlangga juga menuturkan program mandatori Biodiesel B30 juga mendorong stabilitas harga sawit dan membuat sawit masuk dalam supercycle dengan harga sebesar US$1,283 per ton.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 17 November 2021  |  15:33 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan sambutan saat Bisnis Indonesia Award (BIA) 2021 di Jakarta, Rabu (15/9/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan sambutan saat Bisnis Indonesia Award (BIA) 2021 di Jakarta, Rabu (15/9/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan program Biodiesel 30 atau B30 akan menghemat devisa negara hingga Rp56 triliun pada tahun ini.

"Industri sawit ini selain mendorong kemandirian energi, mengurangi emisi gas, juga mengurangi impor solar atau diesel sebesar Rp38 triliun di tahun 2020, sedangkan tahun ini dengan adanya program B30 diperkirakan terjadi penghematan devisa sebesar Rp56 triliun,” ungkap Airlangga dalam Pekan Riset Sawit Indonesia, yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) secara virtual, Rabu (17/11/2021).

Airlangga juga menuturkan program mandatori Biodiesel B30 juga mendorong stabilitas harga sawit dan membuat sawit masuk dalam supercycle dengan harga sebesar US$1,283 per ton. Hal ini memicu nilai tukar kepada petani untuk harga Tandan Buah Segar (TBS) naik relatif paling tinggi selama periode ini, yaitu antara Rp2.800 sampai Rp3.000 rupiah per TBS.

Di sisi lain, kontribusi sawit pada perekonomian adalah sebesar 15,6 persen terhadap total ekspor non-migas, dan 3,5 persen terhadap PDB nasional. Industri sawit juga memperkerjakan 16,2 juta pekerja.

Ke depannya, Airlangga juga berharap adanya proses perbaikan secara terus-menerus terutama dari hulu mulai dari perbaikan benih/varietas, pupuk, alat mesin, kultur budidaya, cara-cara teknik panen, sampai dengan hilir. Hal ini bisa berupa pengembangan produk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, memperluas pasar, serta memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.

Sayangnya, pemerintah belum dapat meningkatkan program Biodiesel dari campuran nabati 30 persen menjadi 40 persen pada tahun depan. Masalah pendanaan menjadi salah satu faktor yang mengganjal.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan dana dari penyertaan dari ekspor sawit yang digunakan saat ini hanya cukup untuk mendanai program B30. Menurut Dadan, untuk mengembangkan B40 dibutuhkan pungutan dana yang lebih besar sehingga hal tersebut menjadi pertimbangan untuk meningkatkan kualitas B30.

"Kami melihat seberapa besar kemampuan industri untuk men-support dari pungutan ekspor dan besarannya itu yang sekarang sedang disusun dan dikaji," katanya dalam paparan yang digelar pada Jumat (22/10/2021).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo sawit Biodiesel B30
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top