Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MRT Jakarta Segera Akuisisi KAI Commuter, Laba KAI Diperkirakan Tergerus

Rencana akuisisi saham sebesar 51 persen saham milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) di tubuh KAI oleh MRT Jakarta dinilai berdampak negatif kepada PT KAI.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 20 Oktober 2021  |  23:18 WIB
Rangkaian kereta rel listrik (KRL) melintas di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Minggu (19/4/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Rangkaian kereta rel listrik (KRL) melintas di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Minggu (19/4/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Institut Studi Transportasi (Instran) menyatakan keberatannya perihal rencana akuisisi saham PT KAI Commuter oleh PT Mrt Jakarta yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun ini. Sebab, langkah tersebut diperkirakan ikut menggerus laba PT Kereta api Indonesia (Persero) atau KAI.

Direktur Eksekutif Instran Deddy Herlambang mengatakan sejauh ini Serikat pekerja PT KAI (SPKA) juga masih tetap konsisten menolak rencana akuisisi saham sebesar 51 persen saham milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) di tubuh KAI oleh MRT Jakarta. Penolakan tetap terjadi kendati akuisisi tersebut akan dilakukan lewat PT Moda Integrasi Jabodetabek (MITJ).

Menurutnya kondisi keuangan PT KAI dan KAI Commuter saat ini masih stabil. Dengan demikian upaya integrasi antarmoda dan intermodal tidak identik dengan akuisisi atau merger entitas keuangan korporasi.

"Kami juga dapat memahami bahwa penolakan SPKA lantaran hal tersebut akan berdampak ke keuangan KAI. Kalau biasanya PT KAI mendapat keuntungan dari PT KCI sebesar 100 persen setelah diakusisi hanya mendapatkan laba 49 persen artinya ada kerugian laba sebesar 51 persen," ujarnya, Rabu (20/10/2021).

Dia juga menilai langkah tersebut menjadi ironi tersendiri apabila perusahaan yang memiliki keuntungan dengan nilai yang besar seperti PT KAI Commuter dijual mayoritas sahamnya.

"Kalau ada perusahaan merugi kalau dijual malah masuk akal. Dalam perhitungan lain menyebutkan pendapatan bersih PT KAI Commuter tiap tahun Rp2,5 triliun(laporan 2018), teryata saham 51 persen KCI hanya dihargai Rp1,7 triliun. Mengapa tidak dihitung juga secara captive market sesuai akuntansi sarana KRL yang dimiliki oleh KAI Commuter," terangnya.

Dia mengkalkulasikan, jika perhitungan captive market juga dimasukkan, maka harga aset KAI di KCI tidak hanya senilai Rp1,7 triliun. Dia pun menyayangkan apabila hanya dihitung berdasarkan inventarisasi aset, maka KAI Commuter ibarat perusahaan rugi yang akan dijual asetnya.

Instran juga lantas mempertanyakan komitmen Pemprov DKI untuk melayani integrasi antar moda. Rekam jejak Pemprov DKI Jakarta, sebutnya, kurang mendukung sterilisasi stasiun-stasiun KRL oleh PT KAI pada 2013.

Jumlah penumpang KRL menacapai 1,2 juta per hari oleh karena stasiun tersebut rapi dan bersih seperti saat ini. Hanya penumpang berbayar saja yang dapat memasuki peron stasiun, sehingga di peron stasiun sangat bersih tiada lagi pedagang, pengemis, gelandangan, pengamen dan lain-lain. Sebelum 2013, jumlah penumpang KRL masih berkisar antara 300.000 – 400.000 orang per hari.

Hal tersebut dapat terealisasikan karena upaya PT KAI yang dapat membersihkan stasiun secara sosial tanpa dukungan Pemda-pemda setempat termasuk Pemprov DKI. Padahal sebelumnya Pemda Jabar, Banten dan DKI tidak setuju adanya sterilisasi di dalam area stasiun, pemda tersebut inginnya hanya menata saja.

Namun akhirnya PT KAI tetap bersikukuh bahwa stasiun hanya untuk melayani penumpang KRL, maka berhasilah sterilisasi tersebut dengan mendongkrak pertambahan pengguna KRL tiap tahun. Kini PT KCI sudah memiliki pasar dan data besar justru dibeli Pemprov DKI melalui PT MRT Jakarta

Menurutnya belum ada jaminan pula bahwa akusisi mayoritas saham PT KAI di PT KCI oleh PT MRT tersebut bakal lebih baik dari pelayanan KCI sebelumnya. Pasalnya, alasan akuisisi KCI tersebut untuk mempermudah integrasi struktur pentarifan. Sebenarnya pelayanan yang baik tidak hanya berkutat masalah tarif, namun masih banyak standar pelayanan minimal (SPM) yang lain.

Rencana kolaborasi antara PT MRT Jakarta (Perseroda) dengan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) selaku operator KRL Jabodetabek terus berlanjut. Menurut Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar pada akhir tahun ini hasil penggabungan ini sudah dapat dilaporkan.

William menjelaskan format yang dilakukan adalah kolaborasi dan integrasi bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta stakeholder terkait. Untuk mengintegrasikan layanan yang dilakukan KCI, MRT, LRT hingga Transjakarta dalam satu sistem JakLinko.

"Saya menghindari kata akuisisi, karena terkesan menguasai menurut orang awam. Ini formatnya adalah kolaborasi. Saat ini gimana memastikan pada saat pengintegerasian sistem layanan ini yang di koordinasikan oleh MITJ. PT Moda Transportasi Integrasi Jabodetabek (MITJ) ini adalah bentukan bersama PT MRT Jakarta dengan PT KAI," katanya.

William mengatakan PT MRT Jakarta sedang menyiapkan dan menghitung pendanaan untuk proses integrasi. Khususnya dalam pelayanan Kereta Commuter Indonesia ke dalam PT MITJ. Proses juga sudah berjalan dan tanda tangan kesepakatan integrasi MRT dan KAI juga sudah dilakukan.

"Dalam waktu beberapa bulan prosesnya akan berlangsung terus pada waktunya nanti, pada akhir tahun dilaporkan hasil kesepakatan itu," katanya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mrt kereta api pt kereta api indonesia
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top