Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Pemulihan Global Kehilangan Momentum hingga Jalan Tengah Penambang Ilegal

Sejumlah topik di Bisnisindonesia.id mulai dari pemulihan ekonomi global yang kehilangan momentum hingga mengurai jalan tengah masalah penambang ilegal merupakan dua dari lima pilihan yang patut Anda baca lebih lengkap.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 14 Oktober 2021  |  12:00 WIB
Top 5 News Bisnisindonesia.id: Pemulihan Global Kehilangan Momentum hingga Jalan Tengah Penambang Ilegal
Logo The International Monetary Fund (IMF). - Reuters
Bagikan

Bisnis, JAKARTA— Dampak pandemi Covid-19 ternyata masih terasa di sejumlah negara sehingga menggerus ekspektasi terhadap pemulihan ekonomi global. Artikel tersebut merupakan satu dari lima artikel pilihan editor di Bisnisindonesia.id. Simak seluruh pilihan lengkapnya.

1. Pemulihan Global Kehilangan Momentum

Dampak pandemi Covid-19 terhadap rantai pasok ternyata masih terasa sehingga membuat Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2021 menjadi 5,9 persen dari 6 persen yang diproyeksikan Juli.

Pemburukan krisis kesehatan karena virus corona varian delta meredupkan prospek negara-negara berkembang, sedangkan kekurangan pasokan membebani konsumsi dan manufaktur di negara maju.

IMF dalam laporan World Economic Outlook terbaru menyebutkan turbulensi di negara-negara maju mulai membebani prospek global dalam beberapa bulan terakhir.

Perkiraan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diturunkan menjadi 6 persen dari proyeksi 7 persen pada Juli karena pelemahan konsumsi dan penurunan drastispersediaan akibat hambatan rantai pasok. Di Jerman, produksi manufaktur terpukul karena komoditas utama sulit ditemukan sehingga proyeksi pertumbuhan negara itu dipangkas 0,5 poin menjadi 3,1 persen.

Hal yang sama terjadi di sejumlah negara ekonomi utama di Asia sehingga IMF turut merevisi proyeksi pertumbuhan ekonominya. Simak penjelasan lengkapnya di BisnisIndonesia.id.

Dampak pandemi Covid-19 ternyata masih terasa di sejumlah negara sehingga mendorong IMF merevisi prospek pemulihan ekonomi global. (Bloomberg)

2. Cerdik Menyikapi Sentimen Hangat Pergantian Pengendali Emiten

Aksi pergantian pemegang saham pengendali cukup ramai di kalangan emiten pasar modal di Tanah Air. Sepanjang tahun ini, setidaknya ada delapan emiten yang telah berganti kepemilikan dan pemegang saham pengendalinya. Dua emiten lainnya anter melakukan pergantian pengendali.

Teranyar, aksi ganti kepemilikan terjadi pada emiten PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk. (DGIK). Kepemilikan DGIK berganti dari Lintas Kebayoran Kota ke Global Dinamika Kencana.

Pergantian ini diumumkan pada Kamis (7/10/2021). Saham perseroan melesat 33,77 persen ke harga Rp103 pada hari pengumuman tersebut. Secara tahun berjalan, saham DGIK telah melesat 124 persen.

Akuisisi serupa dilakukan oleh Grup Djarum, PT Indika Energy Tbk. (INDY), PT Perdana Karya Perkasa Tbk. (PKPK), PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk. (CENT), dan PT Rigs Tenders Tbk. (RIGS).

Sementara itu, dua emiten lain yang tengah dalam proses pergantian pengendali yakni PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. (TRIM) yang bakal berganti pengendali ke tangan Garibaldi Thohor, serta PT Link Net Tbk. (LINK) yang bakal bergabung dalam konglomerasi Grup Axiata.

Masuknya investor atau pengendali saham baru ke dalam sebuah perusahaan memberikan indikasi adanya rencana bisnis yang lebih optimistis.

Sinyal tersebut menurut Alfred diterima oleh pasar, sehingga respons terhadap aksi korporasi menjadi katalis yang kuat untuk menaikan harga saham emiten-emiten tersebut. Simak panduan lebih lengkapnya pada artikel terkait.

Sejumlah emiten melakukan pergantian pemilik saham pengendali akibat masuknya investor baru. (Bisnis/Arief Hermawan P)

3. Berbenah di Ngurah Rai

Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali berbenah menjelang pembukaan Bali bagi wisatawan mancanegara mulai 14 Oktober.

PT Angkasa Pura I (Persero) selaku operator Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar, misalnya, akan menggratiskan biaya pendaratan pesawat maskapai asing. Mulai besok hingga 31 Desember 2021, maskapai asing dapat memperoleh diskon landing fee 100 persen. Selanjutnya, pada 1 Januari-30 Juni 2022, diskon turun menjadi 50 persen.

Stimulus itu hanya berlaku untuk badan usaha angkatan udara dan perusahaan angkutan udara asing yang menjalankan penerbangan rute internasional. Dukungan itu juga hanya untuk penerbangan penumpang regular berjadwal yang telah disetujui oleh Ditjen Perhubungan Udara berdasarkan izin rute penerbangan. Dengan kata lain, penerbangan kargo atau freightergeneral aviation, dan charter tidak dapat memperoleh insentif.

Selain membebaskan landing fee, AP I akan membantu promosi rute penerbangan maskapai yang mendapatkan insentif di berbagai kanal media elektronik, seperti media sosial. Strategi berbenah bandara bisa Anda simak di artikel terkait.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai berbenah menjelang pembukaan akses terhadap wisatawan mancanegara. (Istimewa)

4. Akibat Aksi Ambil Untung, Bitcoin Terkoreksi Sendirian

Kinerja Bitcoin tertekan sendirian di antara 10 aset cryptocurrency berkapitalisasi paling besar. Harga Bitcoin menyentuh US$54.955,31 atau terkoreksi 3,29 persen secara harian. Kendati mencetak kinerja merah, Bitcoin masih menduduki posisi teratas sebagai aset dengan kapitalisasi pasar paling jumbo dengan US$1,03 triliun.

Sementara itu, sembilan aset lainnya mencetak kenaikan dengan rentang terendah 0,03 persen yakni Tether dan yang tertinggi Binance Coin dengan 15,74 persen.

Beberapa faktor membayangi pergerakan harga cryptocurrency seperti optimisme bahwa Securities and Exchange Commission (SEC) AS bisa menyetujui perdagangan cryptocurrency di AS pada bulan ini membantu mengimbangi kekhawatiran yang membayangi atas potensi regulator untuk mempreketat pengawasan pasar mata uang digital ini.

Kendati ada koreksi, pasar dianggap sudah lebih sehat dan memang penurunan harga saat ini sesuai dengan perkiraan. Lalu, bagaimana dengan prospek Bitcoin di tengah sikap IMF terhadap peredaran cryptocurrency? Mari temukan informasi selengkapnya di Bisnisindonesia.id.

Kendati terkoreksi sendirian, Bitcoin dianggap masih kokoh menguasai pasar dan mengalami koreksi wajar akibat aksi ambil untung. (Bloomberg)

5. Mengurai Persoalan Peti dan Mencari Jalan Tengah Tambang Ilegal

Makin menjamurnya keberadaan pertambangan ilegal atau pertambangan tanpa izin (Peti) perlu segera mendapatkan solusi. Tidak hanya merugikan negara, persoalan Peti sudah sangat mengganggu dan berdampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Sebagai gambaran, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) subsektor mineral dan batu bara pada tahun lalu mencapai Rp34,6 triliun. Adapun, hingga pekan pertama Oktober 2021, PNBP minerba telah mencapai lebih dari Rp51 triliun.

Menariknya, pelaku pertambangan tanpa izin tidak hanya dilakukan secara perorangan, tetapi para kelompok usaha diduga ikut terlibat dalam kegiatan ilegal tersebut.

Pemerintah mencatat bahwa lokasi Peti tidak kurang dari 2.741 titik, yang terdiri dari 96 lokasi Peti batu bara dan sekitar 2.645 Peti mineral yang melibatkan sekitar 3,7 juta orang pekerja.

Kementerian ESDM sendiri tengah melakukan upaya penanganan penambangan tanpa izin melalui penataan wilayah dan regulasi, pembinaan, pendataan dan pemantauan oleh inspektur tambang, serta formalisasi wilayah pertambangan rakyat atau izin pertambangan rakyat. Simak informasi terbaru tentang permasalahan peti di artikel terkait.

Persoalan tambang dan penambang ilegal masih terjadi sehingga membutuhkan solusi lanjutan untuk menyelesaikan risiko lingkungan, kesehatan dan penerimaan negara. (Antara)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Duwi Setiya Ariyanti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top