Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Curhat Pengusaha Mebel Soal Ekspor Jalur Udara

Produk mebel Indonesia untuk ekspor didominasi barang berukuran besar yang dikirim dalam bentuk bulk.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 03 Oktober 2021  |  19:05 WIB
Pekerja menyelesaikan tahap produksi mebel kayu jati di Desa Mekar Agung Lebak, Banten. Kerajinan mebel berupa kursi, meja, dan tempat tidur yang berbahan dasar limbah kayu jati dan mahoni dengan harga berkisar Rp13 juta hingga Rp5 juta per unit. - Antara/Mansyur S
Pekerja menyelesaikan tahap produksi mebel kayu jati di Desa Mekar Agung Lebak, Banten. Kerajinan mebel berupa kursi, meja, dan tempat tidur yang berbahan dasar limbah kayu jati dan mahoni dengan harga berkisar Rp13 juta hingga Rp5 juta per unit. - Antara/Mansyur S

Bisnis.com, JAKARTA — Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyambut positif usulan Kementerian Perdagangan agar usaha kecil menengah (UKM) bisa memanfaatkan kargo jalur udara sebagai alternatif biaya pengapalan yang tinggi. Namun, pengiriman melalui jalur udara tidak bisa digunakan oleh semua jenis produk mebel.

Meski memiliki keunggulan dari sisi kecepatan pengiriman, Ketua Presidium HIMKI Abdul Sobur mengatakan pengiriman mebel jalur udara mempunyai keterbatasan ukuran ruang. Ekspor produk mebel Indonesia didominasi barang berukuran besar yang dikirim dalam bentuk bulk.

“Rata-rata pengiriman dari Jawa Timur bisa mencapai 4.000 kontainer per bulan. Sementara satu pesawat setidaknya hanya bisa memuat 1 atau 2 kontainer dalam sekali penerbangan,” kata Abdul, Minggu (3/10/2021).

Namun, dia meyakini alternatif ini bisa dimanfaatkan untuk pengiriman produk dengan ukuran lebih kecil. Termasuk mebel dengan karakteristik bongkar pasang atau untuk produk UKM lainnya seperti makanan dan minuman.

“Ini ide yang logis, terutama untuk produk-produk berukuran lebih kecil seperti mebel yang knockdown atau makanan dan minuman,” tambahnya.

Kenaikan biaya pengapalan sendiri telah dirasakan industri mebel sejak akhir 2020, terutama untuk pengiriman lintas benua seperti ke Amerika Serikat dan Eropa. Biaya pengapalan kontainer berukuran 40 kaki untuk tujuan Amerika Serikat per Agustus 2021 mencapai US$21.500 menurut data yang dihimpun HIMKI. Biaya tersebut naik 838 persen dibandingkan dengan Agustus 2020 sebesar US$4.000 per kontainer.

“Untuk rute China, negara Asia lain dan Asia Tenggara tidak terlalu signifikan karena perdagangan dua arah masih terjadi. Sementara pengapalan lintas benua naik sampai 900 persen,” tambahnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan ekspor kementerian perdagangan mebel furnitur
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top