Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China-Australia Memanas, Eksportir RI Bisa Ambil Peluang

Sejumlah produk potensial yang dinilai dapat menggantikan impor Australia dari China seperti produk elektronik, peralatan rumah tangga, sepatu olah raga, pakaian jadi, kertas dan gelas atau kaca.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 29 September 2021  |  19:29 WIB
China-Australia Memanas, Eksportir RI Bisa Ambil Peluang
Kegiatan konstruksi gedung di Australia - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Eksportir dalam negeri diminta untuk mengambil peluang ekspor ke Australia menyusul hubungan dagang Australia-China yang memburuk belakangan ini.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan eksportir dalam negeri dapat mengirimkan produk substitusi yang selama ini dipasok dari China untuk pasar Australia.

“Kebutuhan Australia selama ini dipenuhi dengan China. Sekarang hubungan dagang mereka kurang harmonis, China menghentikan impor batu bara dari Australia dan menarik mahasiswanya yang belajar di sana,” kata Benny melalui sambungan telepon kepada Bisnis, Rabu (29/9/2021).

Belakangan, Benny menambahkan, Australia membalas dengan melarang China untuk membeli lahan peternakan sapi di wilayahnya.

“Saat ini terjadi retaliasi China dan Australia, itu kita manfaatkan. Kita mencari mitra importir dari sana yang biasa impor dari China,” kata dia.

Sejumlah produk potensial yang dinilai dapat menggantikan impor Australia dari China seperti produk elektronik, peralatan rumah tangga, sepatu olah raga, pakaian jadi, kertas dan gelas atau kaca.

“Mereka belum produksi telepon genggam di sisi lain produksi mobil mereka sudah tutup, kita bisa ekspor mobil ke sana,” tuturnya.

Dengan demikian, dia menggarisbawahi, Indonesia dapat menaikkan nilai ekspor ke Australia sembari memperkecil defisit neraca perdagangan dengan Negeri Kangguru tersebut.

Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan (Kemendag), neraca perdagangan Indonesia dengan Australia selalu mencatatkan defisit yang lebar sejak tahun 2016. Malahan, neraca perdagangan pada semester pertama tahun ini mengalami defisit mencapai US$3,10 miliar atau minus 133,95 persen jika dibandingkan dengan kinerja tahun lalu yang berada di posisi US$1,32 miliar.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan kinerja ekspor Indonesia ke Australia tumbuh sekitar 7,6 persen pada semester pertama tahun ini jika dibandingkan dengan pencatatan tahun lalu.

Menurut Lutfi kinerja positif itu menunjukkan efektifitas implementasi Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) yang telah diratifikasi kedua negara pada tahun lalu.

“Kinerja ekspor Indonesia tahun 2021 telah tumbuh sebesar 7,6 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu tentu ini tanda yang baik sekalipun bukan pencapaian yang istimewa. Tetapi, kita ingin meningkatkan perdagangan dengan lebih baik lagi,” kata Lutfi selepas mengadakan pertemuan dengan Menteri Perdagangan, Pariwisata dan Investasi Australia Dan Tehan di Jakarta, Rabu (29/9/2021).

Lutfi menambahkan total perdagangan kedua negara meningkat sebesar 65 persen pada semester pertama tahun ini . Dengan demikian, Lutfi mengatakan, total perdagangan Indonesia-Australia mencatatkan transaksi hingga US$6,82 miliar pada paruh pertama tahun ini jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu di posisi US$4,05 miliar.

Kendati demikian, Lutfi mengatakan, total perdagangan Indonesia-Australia sempat merosot hingga 8,8 persen pada tahun lalu di posisi US$7,15 miliar. Alasannya, perdagangan kedua negara terkendala pembatasan mobilitas masyarakat akibat pandemi Covid-19 saat itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor china ia-cepa
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top