Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Reefer Container Buatan INKA dan KML Diharapkan Mampu Tingkatkan Produk Kelautan

Pembuatan reefer container atau peti pendingin yang dibangun oleh PT Industri Kereta Api (INKA) bersama PT Kelola Mina Laut diharapkan dapat mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas hasil produk kelautan dan perikanan.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 27 September 2021  |  06:16 WIB
Reefer Container Buatan INKA dan KML Diharapkan Mampu Tingkatkan Produk Kelautan
Reefer Container. - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pembuatan reefer container atau peti pendingin yang dibangun oleh PT Industri Kereta Api (INKA) bersama PT Kelola Mina Laut diharapkan dapat mendorong peningkatan kuantitas dan kualitas hasil produk kelautan dan perikanan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Panjaitan mengatakan bahwa pembuatan peti pendingin merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mendorong hasil produk kelautan dan perikanan.

“Menindaklanjuti hal ini, Kemenkomarves melalui Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim sudah melaksanakan uji coba prototipe reefer container buatan anak bangsa di Madiun, Jawa Timur,” ujarnya melalui siaran pers dikutip Minggu (26/9/2021).

Asisten Deputi (Asdep) Hilirisasi Sumber Daya Maritim Amalyos Chan menyatakan bahwa saat ini prototipe mini reefer container dengan kapasitas 1 ton, 2 ton, dan 5 ton sudah siap digunakan.

Dia menyebutkan, peti pendingin itu sudah diujicobakan dan dapat berfungsi dengan baik. Produk tersebut merupakan hasil kerja sama antara INKA dan PT Kelola Mina Laut (KML). Dengan adanya keberhasilan itu, dia pun ingin terus mengawal dan mendorong scale up pengembangannya menuju produksi massal.

General Manager INKA Junaidi menyatakan bahwa pembuatan peti pendingin mengandung komponen lokal yang telah disesuaikan juga dengan ketentuan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dari Kementerian Perindustrian.

“Peti pendingin ini mengandung local content sebesar 71 persen. Dengan adanya hal ini, produksi peti pendingin ini mampu berkontribusi terhadap gencarnya gerakan bangga buatan Indonesia,” jelasnya.

Adapun, peti pendingin merupakan satu cara meningkatkan produksi hasil produk perikanan dan kelautan.

Dengan adanya peti pendingin, maka produk-produk sektor kelautan perikanan tangkap segar, mampu terus terjaga kualitasnya sampai ke negara tujuan saat ekspor atau saat dikirim ke tiap daerah di Indonesia.

Ini merupakan salah satu bentuk usaha Indonesia membentuk industri berbasis Cold Chain System bagi produk kelautan dan perikanan nasional.

Penggunaan peti pendingin karya dalam negeri mendapat dukungan dari berbagai asosiasi yang bergerak di bidang kelautan dan perikanan di Indonesia, salah satunya dari Ketua Umum Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) Hasanuddin Yasni.

“Tempat penyimpanan untuk produk kelautan dan perikanan berupa peti pendingin akan sangat membantu peningkatan hilirisasi industri kelautan dan perikanan Indonesia. Kami aplikasikan peti pendingin ini nantinya kepada para nelayan, sehingga mutu dan kualitas produk tangkapan mereka makin bisa bersaing,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perikanan Luhut Pandjaitan
Editor : Lili Sunardi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top