Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Daya Saing Keramik Domestik Terkerek Harga Gas Industri

Sebelum mendapatkan subsidi, industri keramik menyatakan bahwa harga gas industri menjadi penyebab keramik lokal sulit bersaing di pasar ekspor.
Karyawan melayani konsumen melihat produk terbaru dari PT Granitoguna Building Ceramics, brand ArTile, di ajang Indonesia Building Technology (IndoBuild Tech 2019), ICE Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (20/3/2019). /Bisnis-Endang Muchtar
Karyawan melayani konsumen melihat produk terbaru dari PT Granitoguna Building Ceramics, brand ArTile, di ajang Indonesia Building Technology (IndoBuild Tech 2019), ICE Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (20/3/2019). /Bisnis-Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — Kebijakan subsidi harga gas industri menjadi US$6 per metric million british thermal unit (MMBtu) mampu mengerek daya saing produk keramik dalam negeri.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengatakan hal itu dibuktikan dengan kinerja ekspor keramik yang tumbuh 23 persen pada semester I/2021 dan 30 persen sepanjang tahun lalu. Sementara itu, kinerja utilisasi produksi sampai dengan September sudah mencapai 75 persen.

"Kinerja ekspor tersebut ditopang oleh peningkatan penjualan ke negara tujuan seperti Filipina, Malaysia, dan Australia," kata Edy kepada Bisnis, Selasa (21/9/2021).

Dia melanjutkan Asaki juga berencana untuk menyerap pemanfaatan gas lebih banyak dengan mengoptimalkan utilisasi produksi keramik nasional, di mana pada 2019-2020 berkisar 60-65 billion bristh thermal unit per day (BBTUD) dan saat ini berada di atas 80 BBTUD.

Namun di pasar domestik, banjirnya produk impor masih menjadi persoalan serius, terutama dari China dan India yang pada semester satu tahun ini tumbuh 62 persen.

Hal tersebut ditengarai karena menurunnya persentase pengenaan bea masuk tindakan pengamanan atau safeguard pada level 19 persen pada tahun ini.

Safeguard keramik yang berlaku sejak 2018 diketahui terbagi dalam tiga tahap, yakni 23 persen pada tahap pertama, selanjutnya 20 persen, dan pada tahun terakhir ini 19 persen. Pemberlakuan safeguard akan berakhir pada bulan depan dan pemerintah sedang menggodok perpanjangannya.

Edy juga mengatakan tingkat utilisasi 75 persen merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir, di mana pada 2020 tercatat sebesar 56 persen dan pada 2019 sebesar 65 persen.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Reni Lestari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper