Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Langkah Transisi ke Energi Terbarukan Shell Tidak Disambut Investor

Shell menjanjikan tiga perempat dari hasil penjualan bisnis serpih Permian akan dikembalikan kepada pemegang saham.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 21 September 2021  |  18:32 WIB
Karyawan menggunaan helm berlogo Shell di fasilitas pencampuran pelumas di Rusia (7/2/2018). Bloomberg - Andrey Rudakov
Karyawan menggunaan helm berlogo Shell di fasilitas pencampuran pelumas di Rusia (7/2/2018). Bloomberg - Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Investor Royal Dutch Shell Plc masih meragukan rencana perusahaan untuk beralih dari proyek minyak dan gas (migas) yang profitabel ke energi rendah karbon yang kurang menguntungkan.

Dilansir Bloomberg pada Selasa (21/9/2021), Shell menjanjikan tiga perempat dari hasil penjualan bisnis serpih Permian akan dikembalikan kepada pemegang saham. Seperti diketahui, perusahaan gas alam asal AS, ConocoPhillips baru saja menyetujui akuisisi aset Permian Basin di Texas milik Royal Dutch Shell Plc senilai US$9,5 miliar.

Analis Redburn Stuart Joyner mengatakan janji tersebut akan meredakan kekhawatiran kemungkinan Shell lebih banyak lagi investasi ke energi terbarukan.

Seperti diketahui, saingan utama Shell, BP Plc memiliki rencana yang sama untuk mengurangi emisi rumah kacanya. Namun, strategi tersebut tidak mendapat sambutan dari investor, mengikuti masih turunnya saham kedua perusahaan sekitar 30 persen sejak pengumuman rencana.

Berbeda dengan Shell, BP sudah melangkah lebih dulu untuk menggarap energi terbarukan dengan menjual sejumlah aset migasnya. Bahkan beberapa perusahaan Eropa sudah menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun tenaga angin lepas pantai dan proyek tenaga surya.

Namun, Shell cenderung lebih berhati-hati. Perusahaan yang berbasis di Belanda ini lebih memilih untuk menciptakan pertumbuhan organik dengan membangun stasiun pengisi daya kendaraan listrik, penangkap dan penyimpan karbon, membuat bahan bakar alternatif di fasilitas baru dan yang sudah ada.

Pada pekan lalu, Shell menandatangani rencana pembangunan fasilitas bahan bakar hayati di lokasi kilang minyak besar di Belanda.

Rencana ekspansi bertahap ini masih dipertanyakan apakah dapat mengimbangi penyusutan bisnis bahan bakar fosilnya. Perlu diketahui, tahun ini, Shell telah keluar dari konsesi di Tunisia, menjual aset onshore di Mesir, dan sedang dalam pembicaraan untuk melepaskan portofolio ladang minyak onshore di Nigeria.

Shell telah mengoperasikan sebanyak 54 kilang minyak pada 2004 dan kini mungkin hanya akn tersisa sekitar lima kilang utama dan situs bahan kimia.

“Beberapa berdebat soal penyusutan dan pengembalian modal menjadi strategi yang tepat di saat dunia bertransisi energi," kata analis Citigroup Inc. dalam sebuah catatan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas shell rendah karbon

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top