Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bappenas Anggarkan Dana Alokasi Khusus Perkuat Inklusi Sosial Perpustakaan

Bappenas siap memberi dukungan terhadap program literasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan menyiapkan Dana Alokasi Khusus (DAK).
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa memberikan penjelasan saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia, di Jakarta, Senin (13/7/2020). Bisnis/Dedi Gunawan
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa memberikan penjelasan saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia, di Jakarta, Senin (13/7/2020). Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Untuk mencapai Sumber Daya Manusia yang unggul dan berdaya saing, dibutuhkan tingkat literasi yang tinggi.

Guna mencapai hal tersebut Bappenas siap memberi dukungan terhadap program literasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan menyiapkan Dana Alokasi Khusus (DAK).

Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Bappenas Amich Alhumami mengatakan DAK tersebut sudah dijalankan selama tiga tahun terakhir yang digunakan untuk membangun infrastruktur sosial, salah satunya perpustakaan.

“Di bidang perpustakaan, kami memperkuat infrastruktur seperti pembangunan gedung baru, rehabilitasi, pengadaan perabot, penyediaan bahan dan koneksi internet untuk meningkatkan tingkat kunjungan,” ujarnya.

Pada 2021, Perpustakaan Nasional mengelola DAK lebih dari Rp500 miliar yang semuanya telah terdistribusi dari Aceh sampai Papua. Selain membuat perpustakaan menjadi lebih nyaman, Amich juga menilai bahwa perpustakaan harus menjadi pusat pelatihan bagi komunitas-komunitas untuk mempelajari berbagai hal.

Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando mengatakan saat ini paradigma perpustakaan telah mengubah peran dan fungsi perpustakaan.

Peran fungsi perpustakaan mengurusi koleksi hanya tertinggal 10 persen, sisanya lebih mengedepankan peran melakukan transfer knowledge ke masyarakat.

“Jadi, perpustakaan sudah lama mati kalau dia masih bersikap ekslusif. Dia harus inklusif,” jelas Muhammad Syarif Bando.

Menurutnya, paradigma yang kini dibawa Perpustakaan Nasional ialah bagaimana agar masyarakat memahami literasi. Pemahaman akan literasi juga memiliki empat tingkatan, dimulai dari kemampuan baca, tulis, hitung dan pembangunan karakter, aksesibilitas terhadap bahan bacaan terbaru, terpercaya dan menjadi solusi.

Kedua, memahami makna tersirat dari yang tersurat. Ketiga, memiliki kemampuan berinovasi atau kreativitas. Dan tingkatan akhir literasi adalah kemampuan menghasilkan barang/jasa yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Itu artinya, masyarakat membutuhkan sarana perpustakaan mengubah kualitas hidupnya. Dari barang dan jasa yang dihasilkan sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidupnya. Siapa saja yang ingin, silahkan datang ke perpustakaan, kami akan membimbing dan mendampingi pilihan ekonomi apa saja,” ucapnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dewi Andriani

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper