Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Namarin Beberkan Kendala Penerapan NLE di Pelabuhan Selain Batam

Penerapan digitalisasi yang diterapkan akan mubazir jika tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 22 Agustus 2021  |  16:42 WIB
Ilustrasi suasana Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (12/1/2021). - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Ilustrasi suasana Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (12/1/2021). - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA – The National Maritime Institute (Namarin) membeberkan dua persoalan yang harus diperhatikan pemerintah dalam pengimplementasian National Logistic System (NLE) di 10 pelabuhan setelah Batam.

Direktur Eksekutif Namarin Siswanto Rusdi mengatakan bahwa persoalan pertama yang harus diperhatikan pemerintah adalah terkait infrastruktur teknologi informatika (TI) dan budaya digitalisasi di daerah yang menjadi target penerapan NLE.

Dia mencontohkan, kesiapan jaringan internet di kawasan yang akan menerapkan NLE harus baik, dan pemerintah perlu mengukur seberapa tinggi penggunaan layanan digital oleh masyarakat setempat.

“Yang jadi masalah adalah infrastruktur TI-nya kuat atau tidak di daerah-daerah itu, seperti jaringan internet. Kemudian tingkat digitalisasi di daerah itu tinggi atau tidak. Orang kan main digital itu tinggi dulu traffic-nya, misalnya pesan kontainer sudah pakai aplikasi, kemudian beli tiket sudah pakai aplikasi,” katanya kepada Bisnis, Minggu (22/8/2021).

Menurutnya, penerapan digitalisasi yang diterapkan akan mubazir jika tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai. Dia pun tidak ingin NLE akan bernasib sama seperti inaportnet yang dinilainya tidak terlalu berkembang.

Menurutnya, masih banyak pelanggan yang memilih untuk menggunakan cara manual dibandingkan dengan memanfaatkan sistem layanan tunggal berbasis internet yang mengintegrasikan sistem informasi kepelabuhanan tersebut.

“Kalau di Batam [penerapan NLE] oke. Di sana ekosistem atau perilaku digitalnya sudah terbentuk. Kalau di daerah lain, misalnya Indonesia Timur perilaku digitalnya bagaimana, ini yang harus diperhatikan. Hal seperti ini yang menurut saya akan menjadi tantangan penerapan NLE,” jelasnya.

Persoalan kedua, kata dia, adalah belum adanya aplikasi besar atau superapps yang mewadahi semua layanan logistik. Apalagi, NLE saat ini baru sebatas kolaborasi digital yang memungkinkan entitas logistik terhubung dengan pemerintah dan platform logistik lainnya.

Tanpa adanya superapps, pengguna akan kesulitan karena harus mengunduh banyak aplikasi, seperti aplikasi untuk pemesanan kontainer, pemesanan truk, dan sandar kapal.

“NLE ini berkali-kali dibilang ekosistem, bukan platform. Kalau ekosistem, terlalu banyak nanti aplikasi yang harus di-donwnload pemakai. Nah dua ini menurut saya tantangannya. Tingkat digitalisasi dan aplikasi super yang sudah saatnya dipikirkan,” tuturnya.

Sebelumnya, guna mempercepat implementasi Instruksi Presiden Nomor 5/2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membahas perkembangan NLE bersama berbagai kementerian dan lembaga terkait.

Luhut meminta agar seluruh pihak bekerja sama memantau perkembangan NLE setiap bulannya, sehingga kendala yang ada bisa segera diperbaiki.

“Saya minta kepada semua, target kita 10 pelabuhan setelah Batam. Coba disusun timetable-nya dan kendalanya apa. Akan kita selesaikan satu-satu supaya semuanya jalan,” imbuh Luhut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pelabuhan logistik
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top