Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bisnis Penerbangan Merana, Biro Perjalanan Makin Nelangsa

Biro perjalanan menjadi terdampak akibat bisnis penerbangan yang kian merana saat PPKM.
Biro perjalanan/biztechreport
Biro perjalanan/biztechreport

Bisnis.com, JAKARTA - Kian lesunya kinerja bisnis maskapai dalam beberapa waktu belakangan memperparah kondisi biro perjalanan wisata. Penurunan jumlah pembelian tiket di biro perjalanan dalam sebulan terakhir turun ke kisaran 30-50 persen dibandingkan dengan periode normal.

Wakil Ketua Umum Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) Budijanto mengatakan jumlah transaksi pembelian tiket pesawat di biro perjalanan wisata dalam sebulan terakhir hanya berkisar 5-10 persen dibandingkan dengan periode normal.

"Penurunan jumlah transaksi tersebut dialami baik oleh perusahaan travel agency online maupun offline," ujar Budijanto, Selasa (3/8/2021).

Dia menjelaskan sebelum pandemi penjualan tiket pesawat di biro perjalanan wisata konvensional masih mendominasi. Dengan persentase 60 persen transaksi di biro perjalanan konvensional dan 40 persen di platform agen perjalanan wisata daring.

Kondisi tersebut telah memberikan berdampak parah terhadap industri. Berdasarkan data terakhir Asita, sebanyak 90 persen dari total 7.000 perusahaan biro perjalanan wisata sudah tutup sementara sejak April 2020 akibat terdampak oleh pandemi Covid-19.

Menurut Budijanto, dampak penurunan kinerja di industri maskapai penerbangan terhadap industri biro perjalanan wisata dinilai sudah menjadi mekanisme pasar sehingga tidak dapat dihindari.

Penurunan jumlah penumpang, sambungnya, secara otomatis mendorong kenaikan harga sehingga bepergian menggunakan jasa maskapai penerbangan menjadi tidak menarik. Dengan demikian, kata Budijanto, perusahaan biro perjalanan tidak bisa memberikan banyak pilihan kepada konsumen.

Terkait dengan kondisi tersebut, dia berharap pemerintah bisa menganggarkan anggaran untuk disalurkan dalam bentuk subsidi yang ditujukan kepada pengelola destinasi wisata untuk dimanfaatkan sebagai tawaran diskon kepada pelancong. Tujuannya adalah mengompensasi mahalnya harga tiket pesawat.

"Dengan demikian, masing-masing destinasi wisata bisa memberikan diskon khusus untuk wisatawan yang datang sehingga ada subsidi silang. Jadi, subsidi itu mengompensasi harga tiket pesawat yang tinggi," ujarnya.

Selain itu, Budijanto berharap pelonggaran persyaratan penerbangan agar diberlakukan untuk mendukung tersebut. Sebagai informasi, jumlah penumpang maskapai Garuda Indonesia mengalami penurunan hingga 60% selama masa kebijakan PPKM semester I/2021.

Kondisi yang sama dialami oleh maskapai lain seperti Lion Air dan Sriwijaya Air. Penurunan jumlah penumpang ini disinyalir akibat dari kebijakan syarat test PCR untuk menggunakan angkutan udara.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rahmad Fauzan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper