Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Author

Arif Budisusilo

Jurnalis Senior Bisnis Indonesia Group

Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia (2009-2016) dan Direktur Pemberitaan (2012-2020). Sejak Juli 2020, ditugaskan sebagai Presiden Direktur Solopos Group dan Harian Jogja. Menulis isu ekonomi makro, manajemen dan inovasi, serta perkembangan industri media. Twitter @absusilo, IG: arif_budisusilo

Lihat artikel saya lainnya

NGOBROL EKONOMI: Trust is Money

Demokrasi membuka opsi untuk bicara apa saja. Tapi bicara yang benar jauh lebih bermanfaat, ketimbang membuat banyak kegaduhan yang bertujuan menanamkan distrust di tengah masyarakat.
Tangkapan layar Presiden Joko Widodo secara simbolis membagikan paket obat gratis kepada perwakilan penerima yaitu pasien positif Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri (isoman), Kamis (15/7/2021). JIBI/Bisnis-Nancy Junita
Tangkapan layar Presiden Joko Widodo secara simbolis membagikan paket obat gratis kepada perwakilan penerima yaitu pasien positif Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri (isoman), Kamis (15/7/2021). JIBI/Bisnis-Nancy Junita

Bisnis.com, JAKARTA -- Baru saja saya nemu buku lama tulisan Stephen MR Covey. Judulnya Speed of Trust.

Intisari buku itu adalah: saat level of trust tinggi, maka semua urusan jadi lebih cepat dan mudah. Ongkosnya jadi lebih murah. Sebaliknya, kalau level of trust rendah, banyak urusan menjadi serba rumit. Ongkosnya menjadi berlipat-lipat. Mahal.

Ringkasnya begini: high trust (kepercayaan yang tinggi) akan membuat urusan Anda beres lebih cepat (high speed), sehingga secara keseluruhan berbiaya murah alias low cost. Apalagi bila waktu adalah yang turut diperhitungkan.

Sebaliknya, low trust akan membuat urusan kita jadi low speed dan berbiaya mahal alias high cost.

Coba saja Anda pergi ke Amerika sekarang ini, atau enggak usah jauh-jauh deh, ke Singapura saja, atau ke Australia. Pasti diminta persyaratan beraneka macam. Mulai dari sertifikat vaksin, hasil tes PCR negatif Covid-19, dan bermacam surat keterangan lain.

Bahkan jangankan ke luar negeri, pergi antarkota dan antarprovinsi di dalam negeri saja dipersyaratkan sertifikat vaksin dan surat bebas Covid. 

Banyak pihak merasa tidak yakin bahwa dirinya aman untuk bertemu orang atau menerima kedatangan orang asing atau yang tidak dikenali. Karenanya aturan dibuat ketat, tunjukkan bahwa Anda sehat dengan sertifikat vaksin dan dokumen bukti bebas Covid.

Akibatnya, butuh proses lebih panjang untuk bisa bepergian. Biaya jadi lebih mahal.

Bahkan negara seperti Indonesia hari ini diblok ekstra ketat, warganya tidak diterima berkunjung ke sejumlah negara. Bukan hanya dokumen bebas Covid yang tak dipercayai, bahkan satu negara tidak dipercayai. Low trust.

Contoh lain masih banyak, bukan saat ini saja, bahwa low trust berakibat low speed dan berujung high cost. Sekadar contoh saja. Satu ketika saya bersama sejumlah teman pergi ke Israel. Hanya lantaran nama satu anggota rombongan dicurigai terkait dengan nama keluarga teroris, urusan jadi panjang. Nyaris tak bisa pulang. 

Di luar itu, kebanyakan Anda tentu sudah biasa mengalami screening di bandara yang bertele-tele. Harus lepas sepatu, jaket, jam tangan, buka laptop, dan semua pernik-pernik di badan saat cek imigrasi. Antrian jadi panjang dan lama. Ini semakin intensif sejak serangan teroris 11 September yang membuat roboh menara kembar New York tahun 2000 silam. 

Sejak itu dunia seperti paranoid. Semua penumpang perjalanan udara layak "dicurigai". Harus diperiksa ketat. Makan waktu lama. Dan "mahal".

***

Saya sengaja mengungkit soal trust, karena isu itu sedang menyelimuti kehidupan kita hari-hari ini. Kita dikelingi oleh banyak sekali pro-kontra, kegaduhan, bahkan kekacauan yang bermuara pada isu trust.

Hari-hari ini kehidupan kita dikelilingi oleh pergumulan dua kubu, trust society dan distrust society. Bagi brand, baik organisasi ataupun personal, trust alias kepercayaan bisa terbangun karena strategi yang baik (trust by design).

Sebaliknya ketidakpercayaan juga bisa terbentuk akibat berbagai blunder kebijakan atau tindakan (distrust by accident). Ada pula sebagai akibat upaya sistematis membangun ketidakpercayaan bahkan kebencian (planted distrust).

Di era teknologi informasi dengan gelombang informasi melalui media sosial hari-hari ini, baik trust by design, distrust by accident maupun planted distrust juga gampang sekali berkembang dan dikobarkan.

Dua yang terakhir ini mudah sekali dikobarkan apabila landasan fundamental dari sebuah kebijakan itu rapuh. Itulah yang kita saksikan hari-hari ini. 

Terlebih hal-hal yang terkait dengan pandemi Covid-19 ini. Mulai dari mereka yang tidak percaya Covid, menolak vaksinasi, hingga pandemi yang dianggap sebagai konspirasi. 

Ujungnya adalah inefektivitas pengendalian pandemi itu sendiri.

Banyak faktor memang saling mempengaruhi. Secara fundamental, kebijakan pemerintah belum sepenuhnya bertumpu pada praktik terbaik (best practices), kurang firm dan berubah-ubah, serta tidak ditopang oleh strategi komunikasi publik yang memadai. 

Meskipun konsepsi kebijakan bagus di level pusat, di level bawah banyak distorsi akibat absennya juklak yang rinci dan gampang dipahami oleh pelaksana di lapangan hingga ke daerah-daerah. 

Ambil saja contoh PPKM Darurat. Bila Anda tanya ke masing-masing petugas di lapangan soal detil tindakan operasional yang perlu dilakukan, jawabannya akan beragam. Garis komando dari Jakarta, provinsi, kabupaten hingga ke kecamatan (apalagi RT-RW) di banyak wilayah tidak berjalan sesuai harapan akibat sekat-sekat otonomi daerah. 

Belum lagi nama program aksi yang berubah-ubah, mulai dari PSBB, PPKM Mikro, PPKM Darurat dan entah nanti apa lagi. Coba saja pakai istilah karantina atau lockdown sejak awal program pengendalian pandemi. Tentu lebih mudah terpatri secara luas di benak masyarakat luas.

Akhirnya yang terjadi adalah kekacauan-kekacauan. Bahkan ada petugas yang disiram air panas oleh penjual makanan, yang kemudian viral dan diviralkan melalui media sosial. Lalu muncullah distrust terhadap pelaksanaan kebijakan itu sendiri.

Apalagi banyak yang, sengaja atau tidak, menyebarluaskan aneka video melalui media sosial yang terkesan membenturkan kebijakan pemerintah dengan keyakinan agama tertentu. Dan dampaknya efektif dalam membentuk distrust. Tak heran, kita relatif lama mengalami situasi pandemi ini. Dan ongkosnya mahal.   

*** 

Kalau dulu orang kerap menyebut time is money, waktu adalah uang, maka bolehlah saya bilang saat ini "Trust is Money". Kepercayaan adalah uang. Coba saja hitung berapa ongkos mengelola pandemi dalam lingkungan distrust di Indonesia saat ini? 

Coba saja runut satu demi satu. Dalam setahun pandemi Covid-19, negara telah keluar duit lebih dari Rp1.200 triliun. Anggaplah itu biaya langsung. Lalu berapa ongkos tidak langsung? Maha besar. 

Secara mikro, hitung saja berapa banyak perusahaan mengurangi skala usaha, mem-PHK karyawan, dan bahkan gulung tikar. Hitung pula berapa besar penghasilan individual yang terpotong selama setahun pandemi. 

Secara makro, hitung saja kehilangan kue pendapatan nasional yang tercermin dari resesi ekonomi. Yang jelas, Indonesia kini turun kelas menjadi negara berpendapatan kelas "menengah-bawah" lagi. Indonesia memang masih kelas menengah, namun di level bawah.

Dan jangan lewatkan pula, berapa besar intangible aset yang anjlok gara-gara pandemi yang berkepanjangan ini. Aktivitas sekolah ditiadakan, kualitas kesehatan anjlok, dan kualitas kehidupan sosial melorot. Kita juga kehilangan banyak sekali sumberdaya unggul, wafat akibat terpapar Covid.

Itu semua tidak mudah dikalkulasi dengan angka. Dan memang tidak ada konversinya. Namun, yang pasti, kita bisa rasakan semua kegundahan ini.

Maka dari itu, apabila masih terus berkutat pada pro-kontra soal penanganan pandemi ini, kita akan makin kehilangan banyak "uang" dan kesempatan.

Untuk mengurangi pro-kontra, banyak pihak ingin melihat para pembuat kebijakan bertindak lebih firm. Tidak usah banyak berakrobat dan manuver yang tak perlu. Tak ada gunanya. Kita perlu segera membangun ulang trust, meningkatkan level of trust.

Apakah harapan ini hanya untuk pembuat kebijakan saja? Tentu saja tidak. Bagi sekelompok masyarakat yang selama ini by design, sengaja menanamkan distrust kepada pemerintah dengan berbagai alat disinformasi melalui media sosial, apapun latar belakangnya, sadarlah.

Hentikan syahwat politik, atau apapun motif Anda, yang membuat ongkos pandemi ini menjadi jauh lebih mahal. 

Kita sadar bahwa demokrasi membuka opsi untuk bicara apa saja. Tapi bicara yang benar jauh lebih bermanfaat, ketimbang membuat banyak kegaduhan yang bertujuan menanamkan distrust di tengah masyarakat.

Dua sisi harus jalan beriringan. Pemerintah kudu bener. Cara mengkomunikasikan kebijakan juga harus pener. Dan masyarakat, kita semua, mesti lebih pinter. Tidak mudah terprovokasi informasi-informasi yang keblinger.

Biar pandemi ini cepat berlalu. Biar kehidupan kita lebih normal lagi, dengan cara hidup baru. Biar dapur kira semua bisa ngepul lagi,  berasap oleh geliat ekonomi baru.

Nah, bagaimana menurut Anda?


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arif Budisusilo
Editor : Edi Suwiknyo
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper